Lelaki Pelukis Kanvas, Wanita Pencipta Kata


(Srett. Bunyi kanvas pertama terbuka. Dipandanginya deretan warna yang tersaji dihadapannya.  Saatnya mencampur adukkan warna. Tapi sebelum itu dihadapkannya matanya pada wanita disampingnya. Lalu tersenyum seakan berkata, “Kau siap?” Oleh wanita itu dibalasnya senyumnya dengan tawa, seakan berkata “Berikan aku mahakaryamu, maka akan ku berikan kau cerita paling agungku)

Satu siluet hitam tertancap di tanah

Badannya tegak

Nyiur di kirinya bernyanyi

Langit menjingga

Para nelayan berlabuh

Meninggalkan pulau

Pulau berperahu

Siluet itu tetap berdiri

Ia, pria itu, sedang menunggu

 

Digerak-gerakkannya kacamatanya berkali-kali. Padahal sebenarnya tak ada yang salah dengan posisi kacamata di hidungnya. Ah kawan, aku tau ia dilanda khawatir. Matanya yang cecengukan berkata seperti itu.

“Bodoh, ini sudah hampir magrib dan kau belum datang juga.”

Dihubunginya lagi nomor yang ia hapal di luar kepala itu. Namun nada jawab operator jaringan membuatnya semakin frustasi.

“Ah, kau kemana sih Bodoh?”

Mataharipun merayap turun. Siluet lelaki itu memendek. Hingga akhirnya menghilang. Lelaki itu beranjak meninggalkan pantai. Dituntunnya langkahnya ke satu-satunya mesjid di pantai itu. Ia harus cepat menghadap Tuhannya. Sembari mendoakan Bodohnya bisa sampai dengan selamat.

^^^^^

(Srekk. Gesek kertas dibuka. Diambilnya warna biru. Kali ini tentang gadis itu)

Bulan merajai malam

Bintang menemani

Satu kapal besar mengarungi lautan

Meriakkan air

Gadis berjilbab biru berdiri di dek kapal

Menghadap awan

Berbicara pada penghuni langit

 

“Ah, ini semua gara-gara penundaan waktu keberangkatan kapal itu. Kurus pasti sudah menunggu. Huwah, hpku lowbat lagi. Langit bagaimana ini? Nanti saya pasti diomeli, terus pipiku di cubit sampai merah.”

Bibir gadis itu membentuk lengkung ke bawah, manyun. Tapi ah kawan, sebenarnya ia hanya berpura-pura ngambek saja. Karena lihat sinar matanya itu, menyaingi cahaya bulan saja. Ia jelas sedang bahagia, sedang senang kelimpungan. Siapa yang akan benar-benar ngambek jika sebentar lagi akan bertemu kekasih? Ia kan?

“Hay langit, kenapa debar hatiku berirama acak yah? Dan aku gelisah sekali. Bagaimana jika ia tak mengenalku? Mukaku di foto dengan yang asli kan beda-beda dikit. Hasil kamera memang kelihatan lebih kinclong. Lah sekarang? Mukaku kusam sekali, penuh debu. Bagaimana ini?”

Hahaha kawan. Tidakkah kau merasa gadis ini terlalu polos? Masih saja terkhawatiri oleh poles kecantikan ragawi. Apa ia tak tau yah bahwa sedikitpun kekasihnya tak memikirkan persoalan itu. Hihihi, tapi biarlah. Biarkan ia menikmati gelisahnya. Toh nanti gelisah itu akan berubah wujud. Menyublim menjadi tawa.

^^^^^

(Srett. Bunyi kanvas disibak. Lembar terakhir untuk hari ini harus ia buatkan ending. Lelaki itu memilih kuas kecil disampingnya. Lalu ia celupkan ke tinta abu-abu. Wanita disampingnya memerhatikan. Mengatur nafas untuk cerita berikutnya. Cerita yang dihasilkan lukisan itu)

Kapal tertambat

Kerumunan penumpang bertebaran

Gadis berjilbab biru menyandang ransel

Pada barisan paling depan

Lelaki berkacamata dihadapnya

Berjarak meter

Gadis itu tersenyum

Lelaki itu tertawa

 

            Lelaki itu mendekat. Menghampiri kasihnya yang tersenyum. Diambilnya ransel kasihnya lalu digantungkannya di pundaknya.

“Kenapa lama sekali? Katanya ba’da magrib udah sampe?” Dileletkannya lidahnya. Mereka tertawa bersamaan, lalu melangkah beriringan.

“Hehehe, yah maaf. Tadi tuh yah di tengah jalan kapalnya mogok. Jadi di servis dulu, baru deh bisa jalan lagi.”

“Hush, sembarangan. Kalo kapalnya mogok kamu tuh udah gak ada disini. Tapi kelelep, noh.. di laut sana.. jadi santap malamnya ikan piranha.”

“Ye, kapalku jago tau! Karena tadi tuh yah, pas kapalku lagi mogok tiba-tiba Avatar datang. Dia bantuin kita pake jurus kekuatan anginnya itu loh. Dia angkat kapalku, jadinya kapalku ngambang di udara, terus diantar sampe kesini deh. hahahaha”

“Wah ngarang. Ceritamu ngarang. Baru saja tadi saya ditelpon Katara, katanya dia dari tadi kencan ama Aang di Pantai Bira. Hihihihiiii”

Gadis itu berhenti melangkah. Lalu memonyongkan bibir.

“Ih gak asik. Ngalah dikit kek”

“iya deh saya ngalah. Tapi pipinya harus mau dicubit yah?”

Lelaki itu mengerlingkan mata. Dan tersenyum jahil. Gadis yang ia tatap kelimpungan. Dengan wajah yang perlahan-lahan memerah.

“Huwahh gak bisa! Jangan sentuh-sentuh, bukan muhrim!”

“Hahaha. Tapi kan lusa bakal jadi muhrim, jadi boleh dong.”

“Tetap tidak bisa. Yeeeee…!”

Gadis itu berlari menjauh, membelah pasir. Lelaki itu mengejarnya. Bersiap mendaratkan sebuah jitakan sayang di gadis itu. Gadis yang sebentar lagi akan disuntingnya.

^^^^^

“Oke, ceritaku selesai.”

“Lukisanku juga siap pajang. Hehehe”

“Hmm, lukisanmu kok jadi keren gini kak?”

“Ceritamu juga mendadak bagus dek. Benar-benar menghidupkan lukisanku, jadinya lukisanku seperti benar-benar bergerak. Hahaha”

“Dasar pelukis kanvas”

“Dasar pencipta kata”

Advertisements

One thought on “Lelaki Pelukis Kanvas, Wanita Pencipta Kata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s