Jauh


Gelombang suara memang memanggilmu mendekat.
Lewat frekuensi suara itu kau seakan-akan berjarak sentimeter.
Seperti dalam beberapa detik kau mampu berlari kesini
Membuka tanganmu lebar-lebar untuk mengangkatku tinggi
Datang dengan senyum lalu membekaskan sidik jari di pipi.

Tapi,
begitu percakapan akan diputuskan
kesadaran itu kembali
bahwa kau jauh sekali

dan jika begitu rindu dengan enggan kita tuntaskan

katamu “rindu itu kita pupuk, lalu jika Ramadhan depan kita bertemu, akan ku petikkan dandelion rindumu, dandelion rindu yang selama ini kita rawat baik-baik”

Aku tersenyum, sudah saatnya mengakhiri percakapan

“Aku mencintaimu …”, kataku, dengan cinta yang ku batasi terlebih dahulu, agar Allahku tak cemburu.
“Aku lebih mencintaimu …”, katamu, lewat cinta yang terbatasi lebih dulu agar Allah tak cemburu, agar kita dipersatukan-Nya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s