Semangat Basi


         Dihari libur dadakan ini saya bangun dengan  perasaan yang benar-benar malas. Benar-benar malas. Empat belas panggilan masuk pada handphone ku acuhkan. Hari ini saya ingin “balas dendam” atas aktifitas gila-gilaan yang ku lakoni kemarin.

Sengat panas matahari yang akhirnya membangunkanku. Sadar akan hawa kamar yang tidak lagi berbau nyaman-tidur, saya akhirnya melihat jam. Jam 12 teng. Ckckckckkk, tidak salah memang bundaku yang mengataiku kuttu, karena melihat diriku sendiri yang masih tergolek malas di tempat tidur tak berbentuk saya juga lamat-lamat membisiki diriku sendiri pemalas. Jiahh anak gadis!

Memperkuat pondasi kemalasanku, ku dapati diriku yang baru ingin sarapan pagi di puncak siang yang manis. Ku saksikan diriku sendiri baru membereskan piring-piring yang masih berisi di meja makan. Piring-piring bertuankan makanan tak layak makan di meja. Bau busuk makanan di piring itu menjadikan tanganku refleks menutup hidung dan menjadikan otakku sibuk merenung.

Mendapatkan sepiring makanan basi di meja makan bekas makan 2 hari yang lalu, saya hanya seperti melihat semangatku di piring yang dikerumuni lalat. Semangatku yang usang.

Melihat makanan basi itu saya merasa melihat semangatku sendiri yang sudah kadaluarsa.

Ku buka lorong hari-hariku kemarin. Ku lihat aku yang semangat bercita, bermimpi, menginginkan banyak hal. Berceloteh kian kemari pada diri dan teman-teman bahwa aku akan menjadi seperti ini, aku akan ikut ini-ikut itu, aku akan seperti ini-seperti itu, aku bisa melakukan yang dia ini bisa-dia itu bisa. Tapi kenyataannya, jegyaaaaaarrrr. Aku tetap menjadi diriku sendiri yang tak punya kemampuan apa-apa.

Ku lirik lagi makanan basi itu. Aku menjadi semakin mirip dia. Aku makin merasa kadaluarsa. Semangatku yang dulu ku rasa basi!

Jijik memandangi kebasian, ku cuci makanan berlumut itu. Bersama sunlight dan sponge cuci piring, aku mengejakan kalimat ini untuk diriku sendiri, untuk mengakhiri kebasianku,

Kau, anak gadis. Jika kau tak mau melihat dirimu berakhir di tempat pencucian piring seperti makanan ini, maka perbaharui semangatmu. Jangan biarkan semangatmu menjadi layu dan akhirnya basi! Lakukan apa yang kau mampu sekarang, tidak untuk ditunggu-tunggu lama. Atau kau benar-benar akan menjadi basi, menjadi BASI!

Advertisements

6 thoughts on “Semangat Basi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s