Kusut


Aku sering kali mendengarkan, untuk mengungkapkan sayang kepada seseorang dimulai dengan ucapan. Rasa, harus diucap oleh mulut. Agar hati yang kutuju mampu mendengarkan  perasaan yang tulus ku jiwai. Tapi bagiku tidak. Untuk aku, si gadis-bisu, aku hanya mampu menuliskan.

Ku rasakan kebisuanku ini membatasi segala yang ingin ku ungkap. Segala yang ku ingin dia mendengarkan. Segala apa yang ku ingin cakapkan dengannya. Aku tersiksa, jelas. Pernah merasakan sesak saat kau sungguh ingin menyapanya di suatu pagi yang manis namun kau tak mampu? Betapa kata itu sungguh terhenti di ujung lidahmu, menunggu untuk kau suarakan, tapi pita suaramu tak menyanggupi untuk mengeluarkan satu bunyipun. Dan aku sudah menikmati sesak itu semenjak aku bertemu dengannya.  Semenjak dua tahun yang lalu. Dua tahun penuh harap untuk suatu “kapan-kapan” dimana aku mampu berbicara dengannya.

Seperti terjebak dalam kungkungan rumah tingginya Rapunzel, seperti itu tepatnya yang ku rasa. Bersembunyi di balik jendela kebisuanku untuk menikmati tawa yang ia bagi tiap hari. Ah, bahkan hanya dengan memandang wajahnya semua penat tiba-tiba hilang tak berbekas.

All those days watching from the windows
All those years outside looking in

All that time never even knowing
Just how blind I’ve been

Karena tawa itu pula, dulu, dipertemuan awal kami saat menjadi mahasiswa baru di kampus orange, aku memberanikan diri untuk mengajaknya berbicara. Tidak benar-benar berbicara seperti yang orang normal lakukan. Aku hanya memperkenalkan diriku lewat satu-dua kata yang ku wakilkan pada sepotong kertas kecil yang selalu ku bawa kemana-kemana. Seperti hari ini, saat dia datang dengan membawa roti pesananku.

“Kancil, pesanan datang”

Akupun tersenyum. Senyum manis yang memang hanya ku peruntukkan untuk dia. Buru-buru ku tuliskan sesuatu untuknya.

Makasih Ranger Merah, kamu memang sahabat yang paling baik di dunia. Hihihi  ^^

“Untukmu Kancil, anytime.”

Kebaikan hatinya yang menggiringku menjadi sahabatnya. Ia lelaki yang sungguh baik. Aku menjulukinya Lelaki Penyayang, meski ia tak tau dengan julukan yang sudah lama ku sematkan pada namanya. Yang ia tau kami bersahabat, Si Kancil dan Ranger Merah akan selalu bersahabat. Aku juga telah lama mengeja kata ‘sahabat’ itu untuk diriku sendiri. Dengan harapan rasa yang melenceng dari rel persahabatan ini bisa mati. Tapi, makin hari makin aku merasa tak mampu melepas kebergantunganku pada keberadaannya.

“Kau menyayangiku Kancil?” Ia bertanya suatu hari. Sepotong kertas ku sobek, ku goreskan sesuatu, dan semenit kemudian ku sodorkan padanya.

Tentu, aku menyayangimu. Kau sahabatku satu-satunya Ranger, masa ia tidak sayang? ^^

Lalu matanya ku lihat berbinar. Binar yang kemudian ku kekalkan dalam ingatanku. Ah binar itu, bisakah untukku saja?

“Iya, aku juga menyayangimu sobat kecil. Dasar Kancil! Hahahaha”

Dan ia mengusap pelan kepalaku. Aku tersenyum gugup. Semoga detak jantungku yang tiba-tiba berdegup kencang dan pipiku yang bersemu sangat merah tak ia perhatikan. Bagiku puncak siang yang menyengat ini tiba-tiba terasa lembut. Untuk satu permohonan yang ku ingin Tuhan mengabulkan, aku ingin waktu berhenti tepat di detik ini. Detik ia mengusap pelan kepalaku. Aku menyayanginya Tuhan, dengan cinta yang tentu telah Engkau paham.

Now I’m here blinking in the starlight
Now I’m here suddenly I see
Standing here it’s oh, so clear
I’m where I’m meant to be
And at last, I see the light
And it’s like the fog has lifted
And at last, I see the light
And it’s like the sky is new
And it’s warm and real and bright
And the world has somehow shifted all at once
Everything looks different now that I see you
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Aku hanya menyayangi dua wanita untuk seumur hidupku ini.  Wanita pertama adalah wanita yang menjadikanku ada di bumi ini dan yang kedua adalah adik kecilku. Untuk kurun waktu 18 tahun aku belum mampu menemukan wanita ketiga yang mampu aku bagikan cintaku untuknya. Dan aku memang belum berencana untuk itu.  Tapi manusia memang hanya mampu menuliskan rencana, Allah lah sang penentu takdir. Seperti hari ini, hari pertama menjadi mahasiswa baru di kampus orange, aku merasa Allah telah mempertemukan padaku wanita ketiga yang akan ku curahkan jiwaku untuknya.

Dia cantik, sungguh. Dengan jilbab hijau yang membingkai kalemnya, ku rasakan aku tak ingin memandang keindahan apapun dibanding dia. Lalu tiba-tiba saja langkahku mendekat menuju arahnya.

“Anak baru juga?”

Ia mengangguk.

“Anak fisika juga?”

Ia mengangguk untuk kali kedua. Aku tak puas. Padahal aku sangat ingin mendengarkan suaranya. Maka kali ini ku lontarkan pertanyaan yang mengharuskan ia menjawab. Tidak dengan gelengan kepala maupun anggukan.

“Kelas mana? Pendidikan, sains atau ICP?”

Ia menghela nafas sejenak. Sempat ku rasakan berat nafasnya, namun kemudian ia tersenyum manis sekali. Sambil menuliskan sesuatu di kertas, lalu ia perlihatkan padaku.

Maaf, dari tadi cuma bisa mengangguk. Saya bisu. Oh ia,saya masuk di kelas Pendidikan ^^

Aku terhenyak, kaget. Tidak menyangka pertanyaan amburadulku untuk menyapanya ternyata harus membuka identitasnya. Untuk menutupi rasa bersalahku aku akhirnya berseloroh konyol:

“Wah sekelas dong kita, salam kenal. Kamu bisa panggil saya Ranger Merah. Hohohooo”

Dan ku tepuk jidatku menyadari aku satu-satunya yang tertawa disini. Menertawai celutukanku yang bodoh. Tapi demi melihat sekali lagi senyum yang membentuk bulan sabit di wajahnya, aku –dalam hati- mensyukuri celutukanku yang asal tadi. Dan oleh senyum itu pula aku merasa duniaku yang tidak lengkap kemarin-kemarin itu mendadak menjadi sempurna hari ini.

All those days chasing down a daydream
All those years living in a blur
All that time never truly seeing
Things the way they were

Now she’s here shining in the starlight
Now she’s here suddenly I know
If she’s here it’s crystal clear
I’m where I’m meant to go

Perkenalan bodoh yang kemarin mengarahkan takdirku bersahabat dengannya. Dan tak terasa sekarang tepat dua tahun aku mengenalnya. Dua tahun ini pula aku terperangkap dalam keragu-raguan yang ku pendam sendiri. Pernah merasa saat suara bahkan tak sanggup untuk mewakili yang membuncah di dadamu?  Aku sudah menyuarakan padanya selama ini lewat candaku yang jujur. Aku menyayanginya. Sayang ia tak pernah percaya. Dan aku tak pernah puas untuk itu. Aku ingin dia benar-benar tau. Dan ku sadari suara tak pernah mampu mewakilkan. Seperti hari ini, saat aku menanyakan rasa itu lagi padanya, dalam canda.
“Kau menyayangiku Kancil?”

Ku rasakan dadaku bergemuruh. Selalu ada gemuruh seperti ini di setiap kali aku memastikan rasaku padanya, meski selalu berformatkan candaan. Olehnya ia potong secarik keras, menggoreskan sesuatu dan memberikannya padaku. Semoga jawaban yang ku harap yang ia berikan padaku.
Tentu, aku menyayangimu. Kau sahabatku satu-satunya Ranger, masa ia tidak sayang? ^^

Gemuruh itu tiba-tiba teredam. Bukan, bukan jawaban ini yang ku inginkan. Bisakah tak ada embel-embel ‘sahabat’ Kancil?

“Iya, aku juga menyayangimu sobat kecil. Dasar Kancil! Hahahaha”

Ku tutup dengan tawa penghibur diri sendiri sembari mengusap-usap kepalanya yang tertutup jilbab. Aku menyayangimu Kancil, sungguh. Kapan kau akan sadar? Yah, suara memang tak pernah mampu mewakilkan rasa. Maka kali ini bagianku yang memotong selembar kertas, mengambil pena, lalu menggoreskan sesuatu.

Aku menyayangimu Kancil. Aku menyayangimu. Sangat menyayangimu. Maukah agar selamanya kita seperti ini? Hanya berdua?

Ku selipkan sepotong kertas itu dalam tasnya. Berharap goresan penaku kali ini mampu menyuarakan segalanya.

Advertisements

8 thoughts on “Kusut

  1. emmm….amma rapunsel menara es krim….demi turun memijak tanah dia harus menghabiskan menara es krim..hehehehe.. ceritanya keren ams…#ndasadarkainimemujinah.

      1. eh, gak maksa kok. xixixiii 😀 cuman emang kalo gak ada kerjaan ada baiknya baca blog saya aja. #eh? hahahaaa 😀

      2. huuuuhh, tuh mah nyuruh juga haha 😛 . . iah nih saya lagi bacabaca isi hati tulisanmu . .

        boleh tau belajar dimana yah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s