Don’t Make ALLAH Jealous (again)


Gambar

Kepalaku masih sakit. Sisa – sisa demam kemarin masih membekas di badanku. Ku tempelkan tanganku ke dahi, hangat. Aku kembali berbaring.

Ku kira mataku akan terpejam lalu kemudian tidur tak sadarkan diri. Tapi tidak. Disela-sela batuk yang mendahak, sebuah percakapan yang ku cipta sendiri bermain di alam bawah sadarku.

“hei,,kau gadis kecil… kau spesial,,jaga dirimu… kecewa melihatmu tidak men-spesialkan dirimu sendiri…”

“huh, apa hal yg sepadan untuk menebus kecewamu, cantik? Sedang belum sepatah katamu pun ku lakoni. Sejujurnya aku belum sanggup. Maaf.”

“Sungguh sangat tak suka melihat kata ‘maaf’-mu gadis kecil… Kata ‘maaf’mu membuat saya merasa orang ter’egois’ sedunia… Kata ‘maaf’ tak tepat untuk kisah ini…”

“lalu apa yang sepadan?”

Kepalaku kembali meriang. Sakit, sungguh. Tapi hal ini jauh lebih menyakitkan.

“Bukankah kita dulu sama-sama sepakat untuk tidak membuat Allah kita cemburu?”

“Aku tak pernah bermaksud membuat Allahku cemburu. Aku mencintainya dalam batas yang sewajarnya, secukupnya.”

“Tapi aku menilainya berlebihan. Segala kata sayang. Belum saatnya Gadis Kecil. Tak maukah kau untuk sekedar menyimpannya terlebih dahulu?”

Ohokk.. Ohokk.. Batukku memburu. Napasku sesak.

“Aku hanya menyayanginya, tidak lebih.”

“Dan aku juga hanya terlalu menyayangimu untuk membuatmu berada pada sesuatu yang………..salah.”

Kepalaku jelas berkunang-kunang. Berdenyut kesakitan. Aku pun tak sadarkan diri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s