Sindrom Insomnia Erza Scarlet


Tidur di kasur teman yang masih terbungkus plastik saking barunya, mengantarkanku yang tadinya menikmati alam mimpi harus tertarik paksa kembali ke alam nyata, kembali ke gelap kamar berukuran 3×4 yang dingin gara-gara kipas angin. Merasakan perutku yang mulai mules (masuk angin), dengan kesadaran fifty-fifty ku hentikan operasi putar kipas angin. Ceklak. Hawa kamar kembali normal ke keadaan khas Makassar.

Panas tentunya. Tapi panas itu yang akhirnya membuat sadar 100%. Aku belum belajar untuk ujian besok. Tapi alih-alih mengambil fotocopy-an untuk dihapal, refleks tanganku malah mencomot modem yang tidur disamping buku. Saatnya baca komik! Hahahaha

Ku buka website kesayanganku, dan ku temui Detective Conan, Naruto serta Fairy Tail faforitku. Masih dalam gelap kamar yang belum tersentuh cahaya lampu philips, kami bersua. Aku mulai khusyuk membaca. Dan kali ini akan kuceritakan hasil pertemuanku dengan teman-temanku di Fairy Tail. xixixixiii 😀

Oia, sebenarnya persahabatanku dengan Fairy Tail masih terbilang baru. Aku baru mulai mengenalnya gara-gara di perkenalkan oleh seseorang (read:seseorangku, hahaha). Tapi kali pertama bertemu kami langsung nyambung. Terikat.

Walau kadang risih dengan pakaian Cana, Juvia, Lucy yang terlalu minim, tapi selalu ada yang bisa ku kagumi dari komik ini. Seperti edisi berjudul Pandemonium kali ini.

Pandemonium adalah sebuah tempat dimana 100 monster berkumpul. Peraturan lomba, setiap peserta sesuai nomor undian harus memilih nominal monster yang disanggupi. Jika dapat mengalahkan monster terpilih maka peserta lomba akan diberikan nilai sesuai dengan nominal monster dikali dengan level monster tersebut. Singkat cerita, Erza Scarlet beruntung mendapatkan nomor undian pertama. Dan memilih tantangan 100 monster. “Semua dari 100 monster itu akan menjadi lawanku”, begitu kata Erza. Dengan begini tidak ada sisa giliran untuk peserta yang berikutnya. Jika Erza dapat mengalahkan keseratus monster ini maka dia akan muncul sebagai pemenang.

Dan Erza memang tidak menyisakan apa-apa untuk peserta lainnya. Ia menang mutlak. Dengan pakaian yang carut marut, badan penuh goresan luka dan darah, ia keluar dari Pandemonium sebagai pemenang.

Padahal ada 100 monster luar biasa yang dikalahkannya. Apa rahasianya? Apa mentang-mentang tokoh kartun makanya di buat bisa? Aku tidak memaknainya seperti itu.

Erza menang berkat kegigihannya. Berkat keberaniannya. Berkat semangatnya. Berkat ketakutan 0%. Hampir sama seperti setangkai bunga scarlet yang mekar dengan penuh rasa bangga, Erza membuktikan keberadaannya. Membuktikan bahwa dia tidak sekedar ada tapi ada yang mumpuni.

Yang mau saya bilang,di alam nyata, masing-masing dari kita punya Pandemonium. Masing-masing dari kita punya monster yang harus dikalahkan. Entah monster itu berwujud keuangan yang pailit, beban kuliah, teman yang tidak bersahabat, ketidakpercayaan dari orang tua, dan lain sebagainya, apapun bentuk monsternya kita wajib menjadi Erza. Erza yang mesti babak belur tapi keluar sebagai pemenang. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s