Catatan Subuh


Dear Biru

Lama tak berbincang pada langit

Dalam bayangku ku liat kau berdiri disamping subuh

menempelkan ujung hidungmu pada jendela

menciptakan uap embun pada kaca, seperti dulu

Sayangku biru,

Pada koridor memoriku ku lihat cahaya matamu yang menari

pupilmu membesar memantulkan perak jingga langit

emm, apa itu karena aku tepat dihadapanmu kemarin?

“Subuh itu, langit yang berbiru-biru jingga atau langit menjingga-jinggakan biru?”

“Bagiku biru dominan, Jingga…”

“Dan kau menganggap jingga letal? Padahal biru yang makro itu sisa-sisa malam yang elegan saja, Biru…”

“Tapi ku fikir kita memang disengajakan berjodoh..”

“Heh?”

“Lihat, dalam setiap hari Tuhan bahkan memberi satu subuh untuk kita bersatu. Jingga… Biru… Warna subuh. Seperti takdir saja kan, Jinggaku sayang?”

Dan aku merasakan subuh ini terlalu impulsif

untuk hanya ku habiskan sendiri

untungnya dengan satu-satu kenanganmu, aku merasa cukup.

Ah, aku mulai menangis lagi, merindukanmu.

Sincerely yours, Jingga

(catatan pada langit dengan semburat biru-jingga pukul 05.00 wita)

Advertisements

6 thoughts on “Catatan Subuh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s