Dear, Lelaki yang Menyayangi


Gambar

Lelaki yang menyayangiku,

Ada  yang mengganjal di pikiranku ketika kali pertama kau mengatakan bahwa kau menyayangiku dan menginginkan aku menjadi kekasihmu. Aku was-was, memikirkan apa kau sungguh sudah menyayangi atau sebatas kagum yang sepintas saja.

Mungkin retina matamu, entah dimana, telah menyimpan sketsa aku yang tersenyum. Hingga dalam satu gelombang cahaya kau terpikat. Atau kau telah menangkapku tak sengaja membaca di perpustakaan hingga kau terpesona. Atau menurut pandang subjektifmu mengklasifikasikanku dalam perempuan-perempuan berpenampilan sederhana hingga batinmu semakin jernih mengagumi.

Kekhawatiranku adalah bila kau tau kekurangan-kekurangan yang belum sempat terdeteksi oleh radarmu, kau akan mengundurkan diri pelan-pelan. Persis meniru sikap abdi pamit pada Baginda Raja, membungkuk lalu menjauh langkah se langkah.

Bagaimana jika ternyata aku, perempuan yang kau akui kau sayang ini, kedepannya akan sering mengeluh,merepotkanmu, bermuka masam di hadapanmu. Tidak akan mendecak kesalkah kau padaku? Maka masihkah di titik itu kau akan mengatakan kau sayang padaku?   

Bagaimana jika aku hanya seorang perempuan pencemburu, yang suatu saat mungkin akan melarangmu untuk sekedar membalas pesan dari perempuan lain. Atau malah akan membelakangimu, tidak berbicara denganmu, hanya karena aku melihat kau bersampingan dengan teman perempuanmu dalam suatu foto kumpul-kumpul misalkan? Apa kau masih berniat menjadikan aku kekasihmu?

Bagaimana jika aku hanya berasal dari keluarga yang sangat biasa. Menghuni rumah kecil yang tak indah. Bagaimana pula kau menyikapi ayahku yang pemarah, suaranya yang keras membentak, kebiasaan ringan tangannya. Belum dengan adikku yang luar biasa nakal dan tak penurut. Jika keadaan keluargaku seperti itu, yang jelas ber-antonim dengan keadaan keluargamu, apakah kau masih akan mengucap, Will you marry me dear?

Bagaimana jika hobi membaca novel dan buku fisikaku tidak membantuku untuk mengerti topik pembicaraan siang-malam kita nanti, tentang masalah krisis moneter dunia, keadaan politik Indonesia, kinerja presiden yang lamban atau mungkin topik pemain bola kesukaanmu? Apa kau tidak akan bosan denganku? Tidak akan menyesalkah kau?

Demikian pertanyaan-pertanyaan cemasku. Jika kau mampu menguatkanku dengan jawaban atas pertanyaan bagaimanaku, maka kau boleh kesini, sekali lagi datang memintaku dengan pertanyaan yang sama. Pada saat itu aku tak akan sungkan lagi mengangguk untuk permintaanmu.

Advertisements

4 thoughts on “Dear, Lelaki yang Menyayangi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s