[#FFSpesial] ~ Payung Merah Jambu ~


“Poni patteeeee….!!! Terowongan airku jangan di rusak dong…!! Susah tau ngebuatnyaaaaaaa..”

“Ini gak dirusak namanya Mei, terowongan airmu lagi ku modifikasi. Dasar gak kreatif ngebuatnya lurus-lurus aja, di bengkokin dikit napa? Nah begini kan lebih bagus…”

“Bagus apanya? Ini hancur namanya!”

Tubuh kurus itu berlari menjauhiku yang bersiap menghadiahinya bom pasir padat nan basah. Aku sering memanggilnya poni patte, julukan yang ku buat sendiri untuk menghancurkan namanya yang bagus. Nama aslinya Zas. Z-a-s tanpa embel-embel. Aku ingat ekspresi mukanya yang keberatan saat pertama kalinya aku menyematkan julukan poni patte pada namanya.

Poni patte? Bahasa apaan tuh? Artinya apa? Bagus kan artinya? Awas loh kalo kalo kamu ngejek, ku kutuk jadi bidadari cantik baru tau rasa. Hahahahaaa”

Setelah ku berikan sedikit penjelasan jahil tentang arti poni patte, dia pun mengangguk puas. Aku lebih-lebih kegirangan dalam hati. Satu orang tertipu hari ini.

“Mei kamu marah yah? Aku lari kok gak dikejar? Udah capek-capek lari juga, kirain bakal dilempar bom betulan, eh malah ngambek disini.”

“Itu sih maunya kamu dikejar. Bleeee”

“Biasanya kan gitu..”

“Lagi gak mood”

“Alah, paling udah lapar lagi, makanya gak bisa ngejar..”

“Whatever!”

“Marah nih yeee..”

“…..”

“Mei…”

“….”

“Mei cantik..”

“….”

“Mei yang badannya langsing..”

“….”

“Mei yang kepengen jadi isteri mentri agama…”

BLUGGG. Sekepalan tangan bom pasir mengenai wajah Zas. Aku yang merencanakannya. Yesss berhasil! Hahahahaaaa. Satu persatu langkah kakiku ku mundurkan. Aku memicu perang. Aku berlari sesegera mungkin.

“KEMBALI MEI JELEEEEEEEEEEKKKKKKKKKK…!!!”

“GAK MAUUUUU..!!! HAHAHAHAHAAAA… MUKA CEMOOONNGGG…!!!”

“INI GARA-GARA KAMU TAUUUUUU..!!!”

“SALAHMU DULUAN KALIIIIIIIIIIIIII….!!!”

Hosh..hosh..hosh. Aku kehabisan napas berlari. Gawat, harus siap-siap mengibarkan bendera putih pada Zas. Aku bersimpuh di batas ombak laut yang pecah. Dengan dua telapak tangan yang bertemu diatas jidat, meminta maaf.

“Oke, oke. Maaf yah poni patte. Sumpah tadi itu gerak refleks tanganku. Gak sengaja. Sumpah!”

“Alasannnnnnnnnnnn..”

“Please. Aku ngaku salah. Maaf yah poni patte sayang, gak lagi-lagi kok.”

“Halah, kalo lagi minta ampun aja pake sayang-sayang. Gak terima.”

“C’mon. Kalo bajuku yang ini juga basah nan kotor, pulang besok aku pake apa dong? Mending poni patte sayang duduk sini dekat aku, nikmati hari-hari terakhir di Lombok ini. Kita kapan lagi bisa kesini coba?”

Terpengaruh  bujuk rayuku yang ku tutup dengan senyum amat manis, bulir-bulir pasir merah jambu yang tadi digenggamnya ia lepas. Fiuh, aman. Tapi wajahnya sebenarnya masih tertekuk, tanda tidak rela harus menyerah kalah. Agar tidak berubah fikiran, ku sarungkan jemariku pada jemarinya. Tergenggam. Ia tersenyum.

“Langitnya kok ikut sama pasir warna pink gitu yah?”

“Langitnya lagi jatuh cinta kali…”

“Pasti sama aku kan? Kan akunya cantik? hahahaa”

“Enak aja, kalo sama kamu yang jatuh cinta itu bukan langit, tapi poni pattemu ini..”

Pipiku menggembung merah mendengar ungkapan frontal Zas. Begitulah ia, begitu jujur memberitahukan isi hatinya. Tidak sepertiku yang mesti sudah sejelas ini tapi masih saja meragu. Aku harus memastikan sesuatu. Sekarang.

“Kalau kita adalah satu ekosistem pantai Tangsi ini, kau melihat dirimu dalam wujud apa Zas?”

“Emm.. Aku berharap diriku adalah terumbu karang yang mesti fisiknya tidak menarik tapi luas sekali.”

“Kenapa terumbu karang?”

“Karena begini, emm.. rumah ikan itu dimana hayo?”

“Di terumbu karang..”

“Tempat ikan-ikan berlindung kalo lagi diburu sama predatornya dimana?”

“Terumbu karang..”

“Tempat ikan-ikan cari makan dimana?”

“Terumbu karang juga..”

“Jadi sudah jelas kan, untuk semua orang yang ku sayang, aku berharap bisa menjadi sosok terumbu karang buat mereka. Menjadi tempat yang aman buat mereka. Mau kemanapun ia keluar, berjalan mencari hidupnya sendiri, dia akan tetap pulang ke rumahnya. Ke aku. Ke terumbu karang mereka. Salah satu ikan-ikan yang ku maksud adalah kamu. Hehehe”

“Ikan kan banyak. Aku jenis ikan apa?”

“Emm.. yang paling cocok untuk kepribadianmu yahh.. ikan buntal! Wakakakakakakkkk!”

Aku mencubit lengannya pelan. Tapi wajahku sumringah sekali. Pertanyaanku mendapatkan jawaban. Kali ini tak ragu ku rebahkan kepalaku pada bahunya.

“Langitnya indah Mei..”

“Iya, eh lihat awannya.. Payung banget Zas!”

“Hahaha… Payung Merah Jambu”

Advertisements

One thought on “[#FFSpesial] ~ Payung Merah Jambu ~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s