Lima


Dear A, apa kau sudah menonton A Thousand Word? Tentang seseorang yang harus menghemat tiap kata yang ia punya untuk bertahan hidup? Belum nonton? Sini mari ku ceritakan. Tutup dulu Markesot yang kau ulang-ulang baca itu. Apa? Sedang tidak baca buku? Oh kalau begitu kau pasti sedang melahap sesuatu berkandung karbohidrat sekarang. Yo wes putu menangisnya dihabiskan saja dulu. Lalu setelah itu aku akan bercerita. Cerita film yang keren sekeren Real Steel yang kau rekomendasikan (meski belum ku nonton karena belum punya). Hehehe 🙂

– ku, bisakah kau bayangkan suatu keadaan hidup dimana kita tidak mampu mengucapkan serta menuliskan kata yang ingin kita sampaikan ke orang lain? Bukan tidak mampu, tapi memang tidak boleh. Karena satu kata yang keluar dari bibir atau setiap kata yang tertoreh di kertas akan memperpendek umur kita. Keadaan ini yang terjadi pada pemuda dalam film ini. Ia karena perbuatan buruk yang ia lakukan dihukum oleh Sang Pemberi Hidup. Satu kata yang ia ungkap,ia tulis, akan menggugurkan satu daun pada pohon. Jika daun pohon itu telah habis jatuh, maka tamat pula lah riwayatnya.

Mengerikan bukan, A? Jika hal itu terjadi pada kita bagaimana kita mampu bercengkrama di perpustakaan lagi? Bagaimana aku mampu menjahilimu? Bagaimana aku dapat memesan coto makassar saat lapar? Bagaimana kita berbicara pada rembulan kesukaan kita masing-masing? Dan yang lebih penting dari itu semua, bagaimana kita menuntaskan rindu kita? No sms, no telponan, bagaimana mungkin?

Hehehe, aku tau kau bersiap-siap menjitakku sekarang. Iya, iya, maksudku bukan sms dan telponan itu yang paling penting. Masih ada yang jauh lebih urgent. Hmm dunia tanpa kata itu pastilah sangat menyesakkan.

Aku langsung ingat ibuku, my A. Ingat ayahku, adikku, kakakku, ingat teman-teman ku, dan tak usah ditanya lagi aku juga mengingatmu. Olehnya itu sebelum dunia berubah menjadi tak mengenyangkan lagi, eh maksudku menyenangkan lagi, sebelum kata harus merampas nyawa, aku berjanji setiap hari akan mengucapkan sayang pada kalian. Setidaknya jika aku pada hari- hari tertentu aku malu berucap aku akan menuliskannya seperti ini. Pada ibu dan ayahku aku sangat menyayangi kalian. Pada adik-adikku yang nakal nan menggemaskan, I love you. Pada kakak dan teman-temanku yang lebih patut disebut saudara, aku sungguh berterimakasih untuk kalian yang tertakdirkan selalu di dekatku. Dan untukmu kasih, nomu nomu nomu saranghae. 

Oia, aku juga berharap orang lain tidak pelit lagi memberi sayang mereka dalam bentuk kata. Sebelum semuanya terlanjur terlambat. Bukan begitu, A?

Advertisements

4 thoughts on “Lima

  1. waaaaaaaaaaaa.. so sweet 🙂
    suka sama penuturan kata2nya.
    baru tau ada film A Thousand Word. Film dari mana itu? sepertinya rame 🙂
    Dan sebelum kata menjadi batas hidup, saya ucapkan “terima kasih sudah mengingatkan akan pentingnya menyampaikan kasih sayang pada orang2 terkasih di sekeliling kita” 🙂

    1. sama-sama mbak irma, oia lupa yg meranin siapa. pkoknya film barat, om google pasti tau. hehehee, selamat menonton mbak 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s