Ramadhan ku


Gambar

Satu lusin tahun yang lalu aku ingat ibuku yang menggedor-gedor pintu kamar dengan aroma ayam goreng. Suara lembut yang mendayu itu jelas membangunkanku. Eh bukan suara ibuku yang kelewat halus maksudku, tapi gaduh minyak yang dimasuki paha ayam yang membuatku sadar. Dengan mata yang tidak mau lihat sinar lampu aku berdiri, oleng. Tapi ibuku selalu tau membuat langkahku tegak dengan menambahkan bagian hati ayam yang menjadi faforitku.

Ibuku itu, tidak seperti ayahku yang memaksa mencuci muka sebelum makan, akan menghapus belek pada mataku lalu menuntunku membaca niat puasa. Tentu karena waktu itu aku masih sangat kecil, aku dimasukkannya dalam lipatan sarungnya. Saat itu hangatnya terasa masuk meresap ke hati. Nah, di pertengahan hari, aku yang nakal berusaha merayu ibuku untuk berpuasa setengah hari saja. Sambil merengek-rengek menarik dasternya yang lusuh. Sambil bergelantungan pada lengannya yang saat itu masih kokoh. Kadang sambil mengacak-acak jilbab lebarnya yang lusuh. Ku kira dia akan marah. Ternyata salah. Aku malah dijanjikannya mendapatkan tambahan porsi kolak pisang manis yang ia buat.

Ramadhan ke-19 ku sekarang, aku jelas merindukan ibuku. Aku rindu dibangunkan. Aku rindu mendengar suara tilawahnya. Aku rindu dibelai rambutku saat selesai tarawih. Terlebih dari itu aku rindu dipeluk oleh doa-doanya. Doa-doa yang tak sengaja ia keraskan sesuai salat. Doa-doa yang selalu ku dengar. Doa-doa yang tak pernah alpa menyebut namaku.

Advertisements

2 thoughts on “Ramadhan ku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s