Sisi yang Lain


Gambar

Lelaki dihadapanku mencintai perempuan berkulit pucat itu. Aku baru melihat pendar cinta yang minta dipetik dari matanya. Setelah cinta masa abu-abunya kandas beberapa kala tahun yang lalu itu, ini kali pertama aku melihat matanya dipenuhi wajah perempuan itu. Cukup membahas tentang perempuan itu saja saat duduk-duduk bersama ia, sudah cukup membuat pupil mata itu semakin membesar.

Im, jawab pertanyaanku dengan jujur sambil lihat mataku yah, kau betul-betul jatuh cinta sama dia?

Iya Er, sangat.

Saat itu aku menertawainya. Bagaimana tidak, wajahnya yang horor berubah menggemaskan detik itu juga. Sudah pernah melihat muka tua yang mendadak bersemu merah karena malu-malu? Nah tepat begitu ekspresinya. Benar-benar lucu. 

Mulai hari itu handphone menjadi kesayangan barunya. Sedikit-sedikit akan ia curi waktu untuk menyelipkan matanya menatap handphone yang ku namai kura-kura ninja itu. Berharap pesan yang ia tunggu datang. Dan terlalu mudah untuk menebak pengirim pesan dari raut wajahnya. Kalau otot bibirnya sudah tertarik sempurna simetris ke kiri-kanan, tak salah lagi perempuan putih pucat itulah yang membalas pesannya.

Secara tak sengaja aku mendendangkan lagu saat itu. Dan ia mencuri dengar.

aku bisa membuatmu

jatuh cinta kepadaku

meski kau tak cinta kepadaku

beri sedikit waktu

agar cinta datang kelak karena terbiasa

Ia yang telah mendahuluiku semeter lalu mundur mensejajari langkahku. “Wah cocok tuh lagunya buat saya. Hahaha”. Lalu ia kembali melebari langkahnya, takut ekspresi jatuh cintanya terekam di retina mataku.

Aku, demi semua alasan di dunia ini, turut memberikan senyum untuknya. Senyum yang datang dari hati.   Aku tidak tau alasannya kenapa. Aku tidak pernah mengerti mengapa hatiku ikut menggembung. Barangkali karena aku juga terlampau cinta padanya. Pada ia yang juga telah memberikan cintanya selama ini. Bisa jadi aku berbalas budi. Boleh jadi karena isi hati sudah benar-benar tertukar sehingga mau tak mau aku juga turut merasa. Entahlah aku tidak peduli pada alasan. Cinta tidak pernah meminta alasan bukan?

Satu yang ku ingin sampaikan padanya adalah untuk tidak menghabiskan cintanya pada perempuan itu. Bukan apa-apa, hanya saja aku tidak ingin melihatnya menjadi sosok Pak Wayan, tokoh faforitku dalam Perahu Kertas. Menjadi Pak Wayan terlalu mubazir, sedang ia bisa memberi cintanya pada yang lain. Dan jika sudah seperti itu, ku pastikan diriku menjadi orang yang paling bersedih untuknya. Tapi positifku, bersama perempuan itu ia akan baik-baik saja. Akan baik-baik saja.

“Er, oi adik.. Kesini..!”

Nah, itu dia yang memanggilku, kakak nomor satuku. Aku harus meminta maaf padanya untuk hanya menyebutkan ‘kau’ tanpa embel-embel ‘kakak’ di awal tulisan ini. Benar-benar tidak sopan aku ini sebagai adik. Hahaha. Tapi biarlah, meski aku begitu porsi cintanya juga tidak akan berkurang untukku. Jadi bebas-bebas saja. Xixixi 😛

Advertisements

2 thoughts on “Sisi yang Lain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s