Melunasi Janji


“Kau ingin suatu saat ku bawa kau pada sebuah taman bunga yang indah?”

Aku berdiri di depan cermin. Cermin memantulkan mimik muka yang aneh. Senyum tidak simetris dan raut yang sedikit-sedikit cengengesan. Ahh ekspresi yang benar harusnya bagaimana? 

“Hati ku seperti taman hibur di tengah kota. Jika kau sedang kesepian, datangi aku, ku temani kau dengan bunga-bunga.”

Menggantung sejenak. Fiuh kenapa pula ini muka harus segini serius? tidak bisakah senyum di akhir kalimat? hufft..

“Kau tinggal datang jika kesepian. kau boleh keluar sesukamu, bersama senang-senang di sana, jika kau sepi lagi maka datang lagi. Tak usah kau buat ikatan apa-apa, tak usah kau tanam bunga di taman itu, supaya tak ada yg harus kau rawat. Biarkan seperti itu tamannya. Karena hati ini adalah taman bunga di tengah kota.” 

Sempurna ku hapalkan. Intonasinya sudah tepat. Wajahku juga sudah bersahabat. Hanya ketuk jantungku yang maraton. Padahal baru selembar fotomu, hasil curianku, yang ku tempel di cermin. Tapi kau sudah berhasil memompa keluar semua keringat dinginku. Dan besok?

Ku coret lagi tanggal pada kalender. Aku belum siap. Aku butuh sedikit lagi waktu buat nyaliku.

*************

Namanya Zayyan. Dia suka sekali berpuisi. Puisinya sederhana tapi selalu sangat bagus. Tingginya hanya sampai bahuku. Kecil, kecil sekali. Apalagi dia kurus. Dia aslinya putih, tapi dia petualang sehingga wajahnya sering sekali kumal. Dia tidak cantik, tapi manis. Suka sekali es krim. Faforitnya cornetto tiramisu flavor. Jago makan. Banyak teman. Penampakannya kayak anak kecil. Lucu.

Athaya Zayyan. Dalam imaji ku, namanya mein-Zayyan. Zayyan ku.

**************

Kau pernah menyayangi seseorang hingga bahagia yang ada di seluruh bumi rela kau tukar untuk dia seorang? Dadamu menggembung, bernafas bahkan terasa sulit, saking sayangnya. Kau melihat wajahnya dalam tiap butir hujan sebelum jatuh ke tanah. Belum cukup, udara yang kau hirup selalu mengeja namanya. Masih ada lagi, kau selalu tidak sadar menulis namanya dalam kertas-kertas isi hatimu.

Kau pernah? Seberapa sering?

Kau tidak membiarkan seekor semut memberengutkan wajahnya menahan sakit yang kecil. Kau tidak mau harinya dibungkus kekecewaan. Kau tidak rela pelupuk matanya basah. Pendeknya kau selalu ingin melihat matahari terbit di wajahnya.

Kau pernah? Seberapa sering?

Demi segala itu, kau ingin menjadi superhero baginya. Terbersit dibenakmu menjadi Thor yang tangguh. Dengan menjadi Thor kau bisa melindungi harinya. Tak pernah ada ketakutan. Tapi itu jika kau adalah Thor. Pernah pula kau bermimpi menjadi Doraemon. Pengabul segala permintaannya. Lagipula Doraemon sangat lucu. Sekalian kau bisa bikin dia tergelak. Tapi setelah mimpi-mimpimu mengawang, kau harus tersadar. Kau hanya manusia biasa-biasa saja, bahkan menjanjikan sesuatu kau merasa terlalu papa. Hingga menjadi urung. Kau tidak punya apa-apa. Sehingga kau memilih menjadi sebuah taman bunga. Taman yang selalu bisa menawarkan tawa dan bisa ia tinggalkan sesuka hati. Kau akhirnya memilih tidak menjadi apa-apa dan siapa-siapa baginya. Kalau perlu kau menjadi badut. Karena tawanya adalah segalanya bagimu. Dan melihatnya saja, lubang-lubang luka di hatimu sempurna tertutup. Sembuh tanpa jejak.

Apa kau juga begitu? Seperti aku?

*****************

“Kita akan kemana?”

Itu suara Zayyan yang merdu. Matanya berkilau. Aku suka sekali melihatnya. Kurang tepat, aku candu melihatnya.

“Kau ingin ku bawa kau pada sebuah taman bunga yang indah?”

Ia mengernyit heran. Lalu buru-buru mengangguk.

“Gak usah pake nanya gendut, ayooo.. dimana tamannya, eh?”

Patah-patah ku bimbing lengan tangannya yang mungil. Ia manut saja. Matanya semakin menyilaukan.

“Kyaaaaaaa… cantik…. Kok aku baru tau di tengah kota ada taman yang segini indah?”

“Hahahahaa, bagaimana mau tau. Nyadar tidak garis edar kamu itu, sebatas kampus-tempat ngajar-warung makan? Hahahahahaaaa”

Lengkung bibirnya terbalik. Ah aku menyesal.

“Maaf kecil, becanda.. yah? yah?”

“Cornetto dulu. Weeekk… Hahahahahaa..”

Berlarilah ia menikmati taman. Sungguh demi apapun, aku sangat menyayanginya.

****************

“Puas lari-larinya? Kamu tuh yah, kayak anak kecil. Eh memang anak kecil sih.. Xixixixii..”

“Biarin yee.. Yang jelasnya hatiku senang.. syalalalalalaaaa..”

Aku tersenyum. Ahh padahal hatiku sedang penuh melihat irama nafasnya yang menderu senang.

“Kecil kalau ada seorang yang menawarkan hatinya seperti taman bunga kau menerima?”

Bulan sabit di matanya berubah purnama. Membulat.

“Maksudnya apa?”

“Jadi hatinya seperti taman hibur di tengah kota. Jika kau sedang kesepian, datangi dia, ia temani kau dengan bunga-bunga. Kau tinggal datang jika kesepian. kau boleh keluar sesukamu, bersama senang-senang di sana, jika kau sepi lagi maka datang lagi. Tak usah kau buat ikatan apa-apa, tak usah kau tanam bunga di taman itu, supaya tak ada yg harus kau rawat. Biarkan seperti itu tamannya. Karena hatinya adalah taman bunga di tengah kota.”

Fiuh, sudah ku lafaskan. Tapi genderang di hatiku baru mulai menabuh perang. Apa yang ia jawabkan?

******************

Aku sedang menggambar sebuah rumah di kanvasku. Tak lupa ku lengkapi dengan sebuah taman yang luas. Hujan sedang bernyanyi di luar sana. Disini hatiku juga sedang basah.

Rumah, taman, dan hujan. Aku mengingat Zayyan lagi.

“Emm kalau seperti itu, saya tidak usah punya taman. Walau tamannya cantik sekali, kayak ini, tapi.. Xixixixii… Tidak ada yang benar-benar memiliki taman. Penjaga taman bahkan hanya menjaga, tidak memiliki. Dia milik umum, keindahan yang ia punya juga buat semua. Universal. Kau tahu gendut? Orang-orang seperti aku, atau mungkin cuma aku, tidak benar-benar mendambakan kebebasan. Aku malah perlu seseorang yang akan menarik tanganku menjauh dari suatu tempat yang salah. Semacam weker yang berbunyi. Atau sepertinya aku perlu sebuah rumah. Yang punya pintu, jendela, dan atap. Jadi aku tidak perlu sebuah taman. Cukup rumah. Atau mungkin sebuah rumah sederhana dengan sebuah taman? Baik bukan?”

Tapi hatiku hanya sebuah taman Zayyan. Hanya bisa menjadi taman.

Gambar di depanku menjadi sangat jelek hingga ku coreti dengan tinta hitam. Rumah, taman dan hujan menjadi hitam. Aku hanya bisa menggambar taman.

Advertisements

8 thoughts on “Melunasi Janji

  1. Ialah taman yang mengerus rindu, bahagiakan dirimu…walaupun tanpa kebahagiaan itu sendiri. Ia cuma kata untuk mewakili perasaan, entah itu perasaan apa ya masa bodoh. intinya, bahagiakan dirimu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s