Sepuluh


Hai A.

Ini sepuluh yang ku tulis lagi untukmu. Terakhir kali menulis untukmu, sembilan, itu 26 November yang lalu. Sekarang hari terakhir Januari. Perhitungan kasarku sudah ada 60 perguliran siang malam yang ku lewati tanpa mengadu padamu. Pikirmu mungkin,ah cuma 2 bulan, waktu berlalu cepat, tidak ada yang penting dengan itu.

Tapi tidak denganku.

Dua bulan ku lalui dengan gemetar menahan bulirbulir yang minta jatuh dari pertahananku. Maka ku putuskan untuk tidak menulis. Menulis berarti membuka gerbang ingatan untuk diserbu kilatkilat sosokmu. Menulis berarti mematenkan senyummu, ekspresi wajahmu, ucapan ucapanmu, lagumu, usap tanganmu pada kepalaku, jalan jalan denganmu serta harum parfummu. Kau tidak pernah tahu seberapa mengerikan aku. Aku selalu tidak sadar memulai tulisanku dengan namamu.

Baru sekarang aku memberanikan nyaliku yang sebesar biji kacang untuk memulai menulis lagi. Sebelum ini mati matian ku bujuk hatiku untuk membeku. Tulisan kali ini tidak usah menyertakan hati dulu. Tapi ah aku bahkan gagal. Baris pertama tulisan ini ternyata sudah menyapamu.

Hey, padamu. Sebenarnya bagaimana melepaskan diri darimu?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s