Sabar


Salah satu kenyataan yang sangat misterius bagi keterbatasan akal manusia adalah praktek-praktek kesabaran Tuhan. Mungkin itu yang menyebabkan Tuhan bergelar Maha Sabar, bukan sangat sabar, atau juga bukan terlalu sabar. #Emha Ainun Najib

Hari ini hari yang lelah sekali. Scarf ku lepaskan, penutup tanganku juga. Helm apalagi. Matahari sukses membuat orang orang penakut sepertiku membentengi kulit ketat sekali. Temanku, yang aslinya putih, santai santai saja, tidak pakai kos kaki, tidak pake masker, tidak pakai jilbab, sempurna santai menghidangkan kulit di panggang matahari. ~Dia memang cowok jadi tidak pake jilbab, hihihii~ 

Panas sekali, dan aku lapar, dan tanganku sudah sakit mengemudi… 

Sekaligus tiga keluhan ku lontarkan, dalam hati. Padanan kata yang sama juga sudah dari tadi di lantunkan teman temanku. Mengeluh tentang jauh dan beratnya perjalanan.

إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا * إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا * وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir”.  (QS. Al- Ma’arij: 19-21)

Ini potongan ayat yang ku ingat begitu mengesah kesusahan. Tidak, aku tidak menghapalkan ayat ini seluruh. Sayang sekali aku belum bisa. Hanya ku ingat ayat ini sepotong sepotong. Tentang sifat asal manusia yang gemar mengeluh lagi pelit. Adapun bunyi lengkap ayat ini, surah apa, ku dapatkan dari hasil bertanya ke seorang kakak yang baik hatinya. hehehe.

Hari ini sejujurnya memang susah sekali. Peluh diusap. Nafas dihela panjang.

“Maaf nak, nanti hari kamis baru bisa kami pastikan, bisa mulai ngajar atau tidak. Kami harus rapatkan dulu dengan pimpinan pusat.”

Satu gelembung meletup. Harapan kembali tergantung. Siang semakin menyengat.

“Sabar, semua ada jalannya. Tetap semangat dek. Usahanya makin dimaksimalkan”

Satu pesan pemberi semangat masuk. Ah kau tidak rasa kulit mu terbakar panas sih. Kau tidak rasa lelah menderu di jalan sepanjang ini. Mengeluh lagi, dalam hati.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Maaf Allah, terlalu banyak mengeluh. Dalam tulisan ini aku bahkan mengeluh lagi, mengadu susah. Sungguh Engkau Maha Sabar untuk meladeni hambamu yang seperti aku, tukang keluh. Hambamu yang seperti aku memang sempit sekali akalnya untuk bisa paham tentang rencanaMu. Rencana yang paling baik yang kau buatkan untuk kami, untuk hambamu yang seperti aku.

🙂

Advertisements

2 thoughts on “Sabar

  1. Hahaha .. Ternyata dikutip disini .. ^_^
    *Kalau mengeluh seperti di atas, ndak termasuk konteks ayat ini, Rahma .. Berbeda antara mengeluh yang sebagai potensi dasar manusia dengan mengeluh sebagai bentuk pembangkangan .. ^_^

    Salam Alaikum, Perempuan Yang Lama Dirundung Cinta ..
    Apa Kabar Setelah Puas Mengeluh Ini ?

    1. aku masih belum ngemer, abang mau jelasin lebih panjang? 🙂

      nama sapaan abang, wow banget, gak gitu juga abangg 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s