Pundak Siapa yang Tersandar?


antique-finish-teddy-bear-clock-150x150

Ada engkau dalam setiap doaku
Sungguh aku rindu berbagi tawa
Kini kita tidak lagi menyapa
Biarlah hanya dari kejauhan

Melihatmu tersenyum
Walau tak pernah berbalas
Bahagiamu juga bahagiaku

Waktu selalu berbaik hati pada orangorang yang terluka. Kata mereka yang bijak: waktu akan menyembuhkan.

Waktu akan menyembuhkan?

Tanyakan pada yang terluka. Umm, tidak. Tanyakan padaku saja, aku pandai menjawabnya.  

Aku? Memang aku siapa?

Sini, kemari, biar ku bisikkan, aku gadis bodoh yang gemar sekali menunggu.

Coba tanya hatimu sekali lagi
Sebelum engkau benar-benar pergi
Masihkah ada aku di dalamnya
Karena hatiku masih menyimpanmu

Kisah kita memang baru sebentar
Namun kesan terukir sangat indah
Aku memang bukan manusia sempurna
Tapi tak pernah berhenti mencoba

Aku menunggu seseorang yang pergi. Tentang kapan ia kembali, aku juga masih berjudi dengan waktu.

Bermasalahkah kau dengan waktu tunggu yang lama? Aku sih sudah klop sekali.

Melihatmu tersenyum
Walau tak pernah berbalas
Bahagiamu juga bahagiaku

Bagian yang tersulit bersama waktu sebenarnya adalah, kenyataan bahwa bersama waktu, menanti, membuat kita benar-benar sendiri. Bersama waktu, aku menikmati tawamu yang jauh, sendirian.

Aku beberapa kali mencoba menahan diriku sendiri untuk tidak mengirimkanmu pesan pembuka pagi. Namun aku selalu gagal. Waktulah yang menertawakan pesan-pesan tak berbalas kotak keluarku.

Selalu terlalu susah, untuk menjalani satu hari tanpa tau kabarmu. Apakah kau sehat, apa kau bahagia, apa kau lelah. Siapa yang bersandar di pundakmu? Tangan siapa yang kau genggam? Aku selalu ingin tau. Maka lepas kendali lah lagi aku. Ku pencet 12 digit nomor yang segera bisa menghubungkan kita. Dan kau tidak pernah menjawab. Waktu tertawa lebih keras.

Tapi berkat tawa waktu yang sedikit sarkasme, aku belajar bagaimana cara menyembuhkan luka. Lama-lama menciptakan hening, aku jadi terbiasa tanpa suara. Pesan-pesan pembuka pagi tetap terkirim. Yang berbeda, meski pesan pembuka pagiku tidak kau bukakan pintu, rasanya sekarang sudah biasa-biasa saja.  Semakin sering ku habiskan waktu menghubungi nomormu, semakin biasa-biasa saja rasanya saat kau hanya berbincang dengan nada tunggu telepon.

Begitulah waktu menyembuhkan lukaku.

Dan dengan begitu aku masih menunggu 🙂

********************************************************************

Coba tanya hatimu sekali lagi
Sebelum engkau benar-benar pergi
Masihkah ada aku di dalamnya
Karena hatiku masih menyimpanmu

Kisah kita memang baru sebentar
Namun kesan terukir sangat indah
Aku memang bukan manusia sempurna
Tapi tak pernah berhenti mencoba

Membuatmu tersenyum
Walau tak pernah berbalas
Bahagiamu juga bahagiaku

Saat kau terlalu rapuh, pundak siapa yang tersandar?
Tangan siapa yang tak melepas? Aku yakin aku
Bahkan saat kau memilih untuk meninggalkan aku
Tak pernah lelah menanti, karena aku yakin
Kau akan kembali..

Ada engkau dalam setiap doaku
Sungguh aku rindu berbagi tawa
Kini kita tidak lagi menyapa
Biarlah hanya dari kejauhan

Melihatmu tersenyum
Walau tak pernah berbalas
Bahagiamu juga bahagiaku

Saat kau terlalu rapuh, pundak siapa yang tersandar?
Tangan siapa yang tak melepas? Aku yakin aku
Bahkan saat kau memilih untuk meninggalkan aku
Tak pernah lelah menanti, meskipun engkau
Tak akan kembali

Masih berharap, karena aku yakin
Kau akan kembali..

*A song by Fiersa Besari, APRIL*

Advertisements

3 thoughts on “Pundak Siapa yang Tersandar?

    1. hehehe. ia, sa liat di foto, uchank dtng d walimahan kak awa kemarin, asiknyaaa. saya ndak bs dtng 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s