Ingatan Basi


Gambar

Selamat sore A. Aku tiba-tiba mengingatmu sore ini. Tidak ada hujan yang mengantarkan pesan rinduku kali ini. Tapi kau tetap saja hadir. Tak perlu pula ku tunggu purnama untuk memvisualisasikan wajahmu, sama sekali tidak perlu. Kau sekarang sudah bisa menyusup dicelah waktuku yang mana saja. Kau selalu bebas memilih. Aku yang tidak pernah siap kau jenguk kapan saja.

Sekarang seharusnya fikiranku berfokus pada mata kuliahku, tapi kau pandai sekali menyisip. Konsentrasiku teralihkan. Dengan sangat spontan ku colek lengan temanku disampingku dan berbisik:

“Reaktor fisi untuk pembelahan nukleon sudah ada sekarang. Pertama kali dibuat oleh Fermi. Secara sederhana reaktor fisi tersusun atas batang-batang pengontrol yang diatur untuk mempercepat inti atom yang lebih berat ditumbuk oleh partikel lain (misalnya neutron) sehingga terbelah menjadi dua inti yang lebih ringan dan beberapa partikel lain. Proses ini terus terjadi dalam waktu yang sangat cepat membentuk reaksi berantai tak terkendali. Akibatnya, terjadi pelepasan energi yang besar dalam waktu singkat. Adapun reaktor fusi sampai sekarang ilmuwan modern masih berusaha membuatnya. Dibutuhkan suhu yang sangat tinggi agar reaksi penggabungan inti ini berlangsung. Secara alami hanya suhu matahari yang mampu untuk mencapai suhu reaksi fusi. Agar manusia bisa menciptakan suhu sepanas itu dibumi, mereka harus membutuhkan teknologi dengan biaya yang sangat mahal (Kita sudah tidak berbicara rupiah lagi loh, ini skala internasional).   Emm kesimpulannya, selalu lebih susah proses fusi dibanding proses fisi nukleon, mungkin mirip dengan kehidupan juga yah bondeng. Melepaskan ikatan hubungan memang lebih gampang dibanding mencipta ikatannya. Ah, mestilah begitu. Makanya dia juga dengan gampang melepaskan aku… Hehehe”

“Hahaha, ngawur. Fisika inti itu tidak semudah kehidupan. Kau ini, selalu saja bisa menggabung-gabungkan sesuatu.”

Dicubitnya tanganku. Wadaww. Tapi beberapa menit kemudian dipalingkan juga mukanya dari papan tulis.

“Move on, Ams. Jangan apa-apa dihubungkan sama dia teruslah. Kapan bisa berdiri sama kakimu sendiri, heh?”

“Sudah move on kok. yeee. Eh sudah ku ceritakan belum tentang kisahku dari balon-balon itu?”

“Iya sudah, kalian dengan sangat kekanakan mengukir nama di balon terus dilepaskan sama-sama ke udara kan ya? Biar apa? Oh iya, biar balonnya bisa terbang tinggi. Seperti harapanmu padanya yang ketinggian.”

“Sadisme. Tidak begitu juga kali. Ah kau menambahkan kata-kata tidak penting pada ceritaku sampai ia kedengaran tidak romantis sekali. Huh. Oia kalau tentang jalan bersama di suatu sore itu kau belum pernah dengar kan? Jadi ceritanya waktu dia pulang dulu….”

“Yang itu juga saya sudah dengar. Kalian berlari-lari kecil, tidak mau kedahuluan bayangan kalian untuk sampai ke tepi laut kan? Mendeburi gelombang ombak dan tertawa lepas sekali. Dalam hati kau memaksa Tuhan untuk membekukan senja untuk kalian berdua saja.”

“Hahaha, kau mengingat dengan sangat baik bondeng. Emm kalau begitulah tentulah kau tidak tau kisah yang ini kan? Naik becak berdua, mengencani jalan setapak lalu dia membelikanku ice cream kesukaanku. Hahaha..”

“Dan setelah itu kalian mampir dilesehan yang menawarkan keteduhan. Makan berhadapan dan kalian saling mencandui gerak mengunyah yang dibuat sekalem mungkin kan? Ams, sampai kapan kau selesai bolak balik menjenguk kenanganmu yang sudah basi kau ceritakan itu, hah? Semua sejarahmu sudah habis kau ceritai. Tamat kau tuliskan. Kau akan bercerita apa lagi? Kau hampir tiap hari mengulang semuanya. Mengulang cerita doa-doa yang ia kirimkan padamu. Kejadian paling bahagiamu, perpustakaan dengan bahasa: tolong kamu jangan pergi, yang kau isyaratkan lewat bahasa tangan. Tangannya yang diam-diam mengakali kesempitan untuk bisa digandengkan dengan tanganmu. Bagian mana lagi yang aku belum tahu? Adakah kenanganmu yang baru yang bisa kau bagi cerita denganku seperti dulu dulu?”

“Dia sering sekali menyanyikan aku lagu pengantar tidur. Suaranya merdu sekali kau tau? Oh iya terakhir ketemu dia mengusap kepalaku sepertinya dengan penuh perasaan sayang. Dia juga suka sekali melambat-lambatkan jalannya saat bersama. Biar semuanya bisa dinikmati lebih lama katanya.”

“Ya Allah, kau sudah mengulang semuanya. Berhenti hidup dengan kenangan yang sudah tidak bisa kembali. Ya Allah, kenapa kau susah sekali diberikan pengertian heh?

Percakapan dihentikan oleh penghapus papan tulis yang tiba-tiba tertumbuk didahiku. Ibu Dosen melirik geram. Aku mengaduh kesakitan. Teman-temanku menertawai.

Ah, kacau. Menyangkut tentangmu, aku selalu kacau. Huft.

Advertisements

4 thoughts on “Ingatan Basi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s