Membersamai Diam


Aku terlanjur tau bagaimana menyembunyikan perasaan, dalam diam, seperti yang tidak sengaja kau ajarkan dulu. Aku terlanjur paham.

Aku membacamu dengan semua kesunyian yang ku miliki. Biar kau benar-benar tidak tau aku memperhatikan. Kadang-kadang aku juga bertanya pada bayangan yang setia menemaniku. Perihal kenapa semua ini harus dirahasiakan, tentang sampai kapan semua ini akan bertahan. Bayangan itu menggelengkan kepalanya.

Aku tetap bertahan dengan ketanpa suaraan ini. Dan hey, kau berhasil membuatku nyaman. Aku merapal namamu dalam diam. Aku mengecutkan nyaliku untuk sekedar mendengarkan suaramu. Aku menghilangkan jejak-jejak yang mungkin saja bisa kau baui.

Singkatnya aku menghilang. Sialnya kau sama sekali tidak sadar.

A, kau mematahkan hatiku…

 

Advertisements

6 thoughts on “Membersamai Diam

  1. A, kita bernasib sama. Tapi bukankah jatuh cinta dalam diam lebih menyenangkan? Tidak ada kecanggungan juga luwes dalam pembicaraan. Tapi semua bergantung cara pandang kita, sih 🙂

      1. iah, ini masih usaha. tali kemarin ikatannya kusut sekali sih, hihihihihiii 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s