Perempuan yang Menyembunyikan Tangis


Meriah suara ikan yang tercelup dalam minyak yang mendidih. Sesekali meletup letup mengenai lengan perempuan itu yang telanjang. Tapi perempuan itu sama sekali tidak menggubris cipratan minyak panas yang sudah membekaskan bulatan bulatan merah kecil pada sekitar pergelangan tangannya.

Perempuan berjilbab hijau tua itu sedang melamun. Jauh sekali fikirannya. Dari jauh dia sudah terlihat seperti nenek nenek bungkuk yang payah. Menggantung angannya jauh sekali dari badannya.

Harum ikan yang  mulai hitam yang kemudian membangunkannya dari emm… hayalannya. Dibalikkannya ikan ikan malang yang sedari tadi minta diperhatikan. Padahal sudah hampir hangus tapi perempuan itu tetap menunggui ikannya untuk layak angkat.

Merenung ia lagi. Lamaaaaaa sekali. Dengan satu waktu sewaktu, dihapusnya air mata yang meleleh di pipinya. Fantasinya berlari semakin jauh… ke masa masa di belakang.

Ayo adek kesini… Ada cornetto.. 😀

Habis kuliah ngapain dek? Kita ke Gramed bareng yah.. Jam tujuh kakak jemput, sudah harus siap yah.. Malas kelamaan menunggu.. :p

Singgah di kosan adek yah nanti sore.. Mau cerita lagi soal itu tuh..

Ngapain dek? Boleh nelpon ndak?

Aku sayang sama adek. Sayaaaannnggg sekali 🙂

Menetes lagi beberapa bulir. Sedang penggorengan dihadapannya sedikit lagi dimakan api. Ia terkesiap. Secepatnya dibawa tombol on kompor gas itu ke posisi off.

Paham juga ia akhirnya bahwa masakan yang dari tadi diperjuangkannya sudah harus dibuang. Diamat amatinya ikan yang bahkan kepalanya sudah tak berbentuk itu. Satu lagi hal yang menjadi korban lamunannya. Ia menghembuskan nafas sesak yang panjang sekali.

Seiring waktu orang orang berubah. Semakin banyak daftar prioritas yang dibuat. Sebanding dengan semakin banyak  hal hal yang dulu penting menjadi tersisihkan.

Termasuk didalamnya dia dalam kehidupan kakak itu.

Dikenang kenangnya hari yang terlewati kemarin. Lalu dibanding bandingkannya dengan keadaannya yang sekarang. Fiuh. Didapatinya beban di kepalanya semakin memberat.

Kakak yang dimaksud perempuan itu sudah terlalu banyak berubah. Dan perempuan itu sama sekali tidak mengerti.

Ia bukan lagi kakak yang manis, yang penyayang. Yang memberi tanpa diminta. Yang memberikan penjagaan penuh, perhatian sempurna. Yang tidak pernah melupakan. Yang memeluk amarah. Yang tidak pernah mendiamkan. Yang selalu menempatkannya dalam skala paling penting.

Ia mengingat lagi kejadian kemarin. Tentang ia yang memelas minta dipedulikan. Tentang ia yang dilupakan. Tentang ia yang dibuat terlihat seperti pengemis, meminta diperhatikan padanya yang sibuk menanyakan kabar orang yang lain.

Yah orang orang berubah. Begitu juga dengan kakak perempuan itu.

Adek, kakak minta maaf

Dan lelaki itu hanya terus meminta maaf. Maaf yang tidak mengembalikan waktu waktu berkualitas yang dihilangkannya. Lantas apa guna maaf?

Dek, sungguh kakak minta maaf.

Semakin yakinlah perempuan itu, tidak ada sesuatu yang sama terjadi dua kali. Pun begitu dengan sayang. Tahulah ia, betapa sayang hanya menjadi pemanis bualan di sela sela bibir saja. Meski begitu di maafkannya juga lelaki itu. Hingga menjadi lega perasaan orang yang dianggapnya kakak itu. Tanpa lelaki itu tau, perkara memaafkan sama sekali tidak ada hubungannya dengan mengembalikan kepercayaan. Ia memaafkan lelaki itu, tapi tidak bisa lagi mempercayainya.

Menderas air yang mengalir dari kelopak matanya. Di hapusnya lekas. Tidak boleh ada yang mengetahui tangisnya. Meski hanya sekedar isakan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s