Ngerumpiin Ustadz


Dear A. Aku bingung bagaimana membuka surat ini dengan baik. Bagaimana menyusun peristiwa peristiwa berentetan di kepalaku untuk ku sampaikan padamu. Bingung karena sebenarnya sudah tidak ada kepentingan apa apa buatku untuk menyuratimu. Tidak ada keperluan mendesak, tidak sedang meminta pertolongan juga tidak ada kabar penting yang wajib kau tahu.

Maka anggap saja, surat ini adalah penyambung ikat silaturrahmi yang longgar. Salah satu ciri muslim yang baik kan, seorang muslim yang selalu berusaha menjalin silaturrahmi dengan saudara muslimnya yang lain? Apalagi sekarang bulan Ramadhan. Bulan paling baik untuk menanam kebaikan dan meminta ampun atas kesalahan kesalahan yang entah sengaja atau tidak sengaja dilakukan kemarin.

Oh iya sebenarnya, sedikit banyaknya surat ini tentulah membahas kau didalamnya A. Maka biarkan saya memulai memaparkan surat ini sekarang.

Ramadhan sedang menuju umur umur terakhirnya, A. Sudah tidak genap sepuluh hari lagi. Bersamaan dengan itu tidak terasa saya sudah sebulan lebih mengabdi di tempat KKN. Namun belum banyak yang ku lakukan ditempat ini. Masih sedikit sekali kebermanfaatanku disini.

Salah satu kegiatan penghabis waktu adalah Gebyar Ramadhan. Semacam mengadakan perlombaan perlombaan yang ditujukan kepada anak anak dengan tujuan memupuk kecintaan anak itu terhadap islam sedari kecil. Ramai A, banyak yang berminat. Kau akan terharu melihat antusias mereka.

Ada peristiwa yang tidak disengaja yang muncul di kegiatan ini A. Sungguh tidak disengaja. Kejadian yang sebenarnya lucu tapi di saya malah jadi bahan pikiran yang berkepanjangan. Dan berawal dari sini pula inti surat ini akan terkuak.

Jadi seperti ini, kau tau untuk setiap perlombaan yang dibuat, kami butuh juri untuk menilai. Prasangka kami, jurinya mestilah imam mesjid yang sedikit berumur, dengan sedikit uban dan sorban di kepala. Tapi kenyataannya hari H kegiatan,  ustadz yang datang, justru… hihihiii.. saya masih sering tertawa  sendiri mengingatnya.

Walhasil Gebyar Ramadhan 3 hari dirasakan dengan penuh semangat. Bagaimana tidak? Hahahahahaaa… Tapi jangan kau bayangkan dulu tingkah kami bakal sangat keganjenan. Maaf yah, kami ini perempuan. Kami ahlinya menyembunyikan rapat rapat kekaguman yang membuncah di dada kami. Nanti sampai di kamar, baru deh, semuanya terbongkar. hehehe

Ustadz kemeja merah yang tadi itu loh.. Saya sempat  2 kali tidak sengaja bertemu pandang dengan  dia. Duh.. Duh..

Kalau saya sih, Udztadz yang kopiah biru. Hehehe. Yang seperti itu yang dicari sama ibuku di rumah.. Hehehe.

Semoga saya dapat suami yang sesoleh dan emmm.. semenarik ustadz yang tadi.. hihihi…

Kebanyakan komentar senada  diatas lah yang muncul. Ckckck, perempuan. Tidak ada yang salah sih sama keinginan mereka  diatas. Saya juga malah teringat dengan pesan seorang Imam Al-Ghazali ”didiklah anakmu 25 tahun sebelum ia lahir” Artinya jauh sebelum seorang menikah, bahkan sejak ia mulai aqil baligh, mulai paham akan ajaran agamanya, maka saat itulah –semestinya- seseorang mulai mempersiapkan diri untuk menjadi teladan bagi anak anaknya kelak. Dan bukan hanya itu, pesan diatas juga bermakna untuk mencari calon jodoh yang berkualitas iman, akhlak, sikap dan ilmunya. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya bukan?  Maka oleh itu, sama sekali tidak ada yang salah dengan keinginan untuk mendapatkan suami yang saleh seperti udztad di atas tersebut. Yang bacaan alqurannya enak, serta yang dapat mengimami dengan baik.

Hanya saja, A, ada potongan yang lupa muncul dikepala teman temanku. Dan aku sudah mengutarakannya dengan nada yang diselingi tawa. Kalau mau yang keren kayak ustas itu, kita juga harus keren.. Gimana mau keren kalo salatnya masih ada yang bolong? hihihiii.. Lalu tertawalah kami bersamaan.

Yah, secara tidak sengaja, berkatmu, yah karena kau yang memulai memperkenalkanku tentang pemahaman ini, aku selalu mengingat potongan salah satu ayat di Surah An Nur. Perempuan yang baik untuk lelaki yang baik, begitupula sebaliknya.  Maka akan menjadi harap yang begitu kosong jika kita menginginkan mendapat seseorang yang begitu baik sedang memproseskan diri kita menuju kebaikan itu sendiri saja tidak. Aku selalu mengimani itu.

Dan bicara tentang imam yang baik A, maafkan jika kadang masih ku sebut sebut juga namamu dalam permohonanku kepada Tuhan kita. Tapi lebih sering sekarang aku memohon kepada Tuhan agar diberikan yang terbaik. Terlepas yang terbaik itu nanti dari Allah untukku adalah kau atau bukan. Yah pemahaman itu aku sudah bisa mengerti. Bahwa Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan, di tempat KKN ini aku akhirnya mengerti. Setelah sekian lama.

Hanya saja aku menambah kriteriaku kepada Tuhan. Aku berdoa supaya yang terbaik bagiku nanti tidak hanya baik pemahaman agamanya serta paham ilmu dunianya. Seseorang itu mestilah juga orang yang gemar menulis sepertiku. Hehehe. Entahlah A, disini tiba tiba aku sadar. Dulu yang membuat aku jatuh hati kepadamu adalah tulisan tulisanmu. Yang membuat kita akhirnya punya banyak kesamaan. Yang lebih penting, bersamamu saya mendapatkan kekuatanku untuk menulis.

Atas dasar itulah saya menambahkan kriteria suka nulis untuk calon yang akan ku jatuh cintahi atas izin Allah kelak. Iya, aku tidak bisa membayangkan akan hidup seumur hidup dengan orang yang tidak mencintai kegiatan menulis sebanyak yang aku cinta. Karena saya sudah kepalang bermimpi, rumah masa depanku meski kecil tapi akan ada mushalla serta perpustakaan di dalamnya. Dan itu semua diniatkan untuk menambah kecintaan kita kepada Tuhan kita. Insya Allah amin.

Sekian A, isi surat ini. Hihihi, setelah ku baca ulang, apa yang ku bahas dalam surat ini ternyata terlalu dipaksakan jika harus disampaikan padamu. Hehe, ya sudahlah biar ku simpan sendiri. Mungkin lain kali, pada hal yang lebih krusial baru surat yang lain akan terkirim. Untuk kali ini biar menjadi konsumsiku sendiri. Wassalam.

Advertisements

One thought on “Ngerumpiin Ustadz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s