Empat Belas


A, besok kau akan pulang. Hari ini ku tuturkan terimakasih untuk waktu yang kau luangkan kemarin.

Aku rindu lagi kau tau, tepat saat pertemuan itu berakhir aku mulai merindukanmu lagi. Setelah hampir setahun menjadi skeptis, satu pertemuan kemarin menarik gravitasinya kembali ke keadaannya semula.

A, aku harus mulai belajar membuka paragraf tidak dengan namamu. Aku harus. Aku menyukai pertemuan kita yang kemarin, tapi sepertinya sesuatu memang sudah dalam masanya untuk berpindah.

Kenangan kenangan ini perlu kita makamkan. Semoga ada bunga mekar indah yang akan menutupnya  ditempat kita menguburnya. Atau kita terbangkan saja ke langit?

A, terimakasih kemarin kau kembali memberi pemahaman tentang mimpi. Bahwa ada beberapa mimpi yang akan menjadi kenyataan, dan beberapa yang lain tidak lebih dari sekedar pemanis ileran tidur. Mimpi kita? Aih sedih sekali harus mengakui bahwa ia termasuk dalam jajaran mimpi yang kurang beruntung. Mimpi yang dihapus berbarengan saat kau mengelap liur yang basah di sudut bibir.

Lalu akan kita kemanakan doa doa kita? Biar menjadi rahasia kita pada Tuhan kita, A. Aku tidak akan menyebut-nyebutnya lagi disini.

Selamat bergerak ke tujuan masing-masing. Semoga kita berbahagia.

Advertisements

2 thoughts on “Empat Belas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s