Waktu Ku Lihat Dia


Aku sudah memerankan adegan pertemuan itu dalam kepalaku

Aku bersama motorku memacu kecepatan untuk tiba lebih cepat di tempat yang kita janjikan. Bisa jadi aku akan datang lebih dulu. Bisa jadi kau yang telah lebih dahulu tiba dan sudah duduk dengan tenang. Kau sendirian. Yah pertemuan ini memang kita ciptakan untuk hanya kita berdua. Aku bertemu dengan senyummu yang membuat debar. Aku.. Akhirnya bisa menyelami masa sekarang di matamu, setelah sekian lama. Aku memberikan benda yang seharusnya ku titipkan padamu. Dan menceritakan lewat tawa bagaimana dia merencanakan pertemuan ini supaya kita bisa bertemu. Kita tertawa. Dan membiarkan waktu berjatuhan detiknya tanpa kita sadari. Kita terlampau senang pada rindu pertemuan ini. Dan aku benar-benar merasakan senang untuk memperjuangkan terjadinya pertemuan ini. Karena pertemuan ini kelewat penting untuk dilewatkan. Ah tapi yang lebih penting adalah: dengan pertemuan ini aku bisa hidup lebih lama lagi. Nyawaku sudah utuh. Aku bahagia. Kita berbahagia.

Aku sudah memerankan adegan pertemuan itu dalam kepalaku

Aku terburu-buru menuruni tangga lantai 3 jurusan. Kau sudah ada menunggu di bawah. Masih dengan senyum yang ku kenali 6 tahun yang lalu. Hanya saja postur tubuhmu yang lebih banyak berubah. Kau bertanya, kita akan pergi kemana? Dan aku akan selalu menjawab: terserah. Dan kita berdebat akan pergi kemana saja. Dan akhirnya kita tidak kemana-mana. Hanya menyusuri ulang tempat dimana dulu kita tinggalkan kenangan kita. Memperbaharui kenangan itu. Mengukirnya lebiih jelas. Dan menambahkan satu dua kenangan yang baru. Bukannya katamu: tidak peduli seberapa banyak terjadinya pertemuan, yang paling penting adalah seberapa penting orang yang kau temui?

 

Aku sudah memerankan adegan pertemuan itu dalam kepalaku

Kita bertemu. Dan tidak peduli seberapa dalam aku mencari jejak-jejakku dalam matamu, aku tidak menemuinya. Matamu jadi begitu asing. Tawamu terdengar seperti tawa orang lain. Dan aku cepat-cepat undur diri dari pertemuan ini. Merasa menyesal dibelakang. Menghapus sesak-sesak nafas dibelakang. Ah tapi setidaknya jawaban penantianku sudah berakhir. Waktunya sudah selesai

 

Sudah ku perankan adegan pertemuan itu di dalam kepalaku beberapa kali. Kenyataannya kita sama sekali tidak bertemu.

Barangkali kau terlampau sibuk. Barangkali pula kau lupa. Tak apa. Rindu hanya perlu ku tampung lebih lama lagi. Atau barangkali kau mengingat janji pertemuan itu tapi menyengajakan melupa. Barangkali kau ingin memberi penjelasan untuk tidak bertemu lagi denganmu. Tapi kenapa? Ah, kau memang tak pernah meminta untuk dinanti. Lalu kenapa aku melakukannya secara sukarela?

 

Kenapa kau terlalu bodoh? Sepertinya pertanyaan itu yang ingin kau sampaikan kepadaku. Lewat pertemuan yang tidak jadi.

 

Fiuh. 

Advertisements

One thought on “Waktu Ku Lihat Dia

  1. semoga akan segera datang waktu terbaik untuk menjadikan apa yg kamu pikirkan menjadi nyata
    untuk memastikan ttg hatimu dan hatinya amma 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s