A, Ini Delusi (titik)


Disaat yang paling sepi, aku suka menghayalkan kau datang menemaniku. Datang mendendangkan lagu india. Apa yah? Kuch kuch hota hai  mungkin. Atau apalah, terserah kamu saja yang bersenandung. Aku tidak peduli apa yang kau buat dengan suaramu itu, aku hanya suka kau ada disampingku.

Atau jika sepiku datang di dalam kegaduhan, kau akan datang menutup telingaku. Katakan saja, disini tidak baik, bagaimana dengan sepotong hujan di luar? Kita tak ada payung.. Astaga gadis ini, kawanan hujan adalah atap, kenapa kau mencari payung? Lalu kau mengikat genggamanmu pada kanan tanganku dan kau bawa lari.

Ku pikir-pikir kenapa aku suka membayangkanmu? Juga, kenapa disaat paling sepi aku baru memintamu datang? Aku tidak tau. Kau bertanya kenapa? Terima saja, jawabannya adalah karena. Aku tidak punya alasan lain. Kau tau aku tidak tau menciptakan alasan.

Tapi disaat yang paling sepi itu, kau memang datang. Seperti yang ku hayalkan, kau duduk persis disampingku. Harum mu masih segar yang sama. Yang membuat kejut kemudian adalah kau yang tertanya.Kamu siapa?

Ku jawab saja: perkenalkan A, aku luka. 

Di akhir kau mencekikku, membiarkan ku mati. Katamu: luka tidak seharusnya ada. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s