Lacrima


Karena mungkin, mungkin, aku sangat ingin aku dan kau dalam suatu waktu di masa depan yang meski tidak tau kapan -tapi aku sangat berharap untuk itu- aku dan kau terangkul menjadi kita. Kita berarti, bukan aku dan kamu bercampur, tapi aku tetap jadi aku, kamu tetap jadi kamu, hanya saja barangkali istilah yang tepat adalah ikatan, hingga aku dan kau menjadi kita. 

Aku begitu sangat ingin kau dan aku menjadi kita sehingga sedu sedan air mataku jatuh meminta pada Tuhanku di malam-malam yang tanpa kabarmu akan menjadi sangat panjang. Tentu saja malam sedemikian panjang tanpa pesanmu. Siapa yang mampu mengarungi malam teramat panjang jika tak ditahu jawaban dari pertanyaan keingintahuan yang menurutmu bisa saja menjadi sangat basa-basi. Walau memang ku kemas dalam kalimat yang basa-basi namun sungguh apapun tentangmu selalu menjadi hal yang menarik, yang bisa ku bawa senyum sampai ke mimpiku.

Hanya saja kau tidak tau, yah bagaimanalah kau bisa tau, karena perasaan adalah hal-hal yang harus didiamkan. Tak boleh bergaung -apalagi kau tau. Karena bagaimana jika kau tak suka? Hancurlah segenggam hati yang terus ku genggam dan ku bawa pergi jika harus ku tau kau tak suka. Rasa-rasa yang ku semai ku pupuk sendiri meranggas dan mati. Maka biarlah, namamu yang sudah sangat ringan di lidahku akan ku ulang-ulang pada percakapanku dengan Tuhan saja.

Tapi entahlah, malam ini, sungguh aku sangat ingin kita bercakap-cakap seperti malam-malam yang biasa. Malam-malam yang dengan pembicaraan yang menurutmu sangat biasa atau banyak membual, tapi ku nantikan betul perbincangan itu meski sekadar pengisi waktu luang buat mu. Hanya saja, selalu aku yang memulai duluan. Aku yang akan menjadi sibuk menentukan tutur-tutur apa, tutur-tutur bagaimana yang harus ku lemparkan padamu sampai kau tertarik membalasnya. Tidak pernah kamu, tidak pernah kamu yang memulai sapa duluan. Kadang-kadang jika ku buka pesanku dan masih ku dapatkan kata-kata yang itu saja, aku akan bersedih sendirian. Sedih kepada kenapa doa-doaku masih belum waktunya dikabulkan.

Maka bergegas ku ambil wudhu dan yahhh, aku… ah, tidak muluk-muluk, semoga setelah selesai doaku terkirim, pesanmu juga bisa… ahh.. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s