Keluarga #1


image

Seseorang pernah menilik kilas tanganku. Lalu berkomentar pendek. “Tanganmu masih halus yah, masih lebih sering ketemu pulpen dibanding panci…” Dapat komentar seperti itu saya ketawa gelagapan yang aneh. Komentarnya pedis sekali.

Saya perempuan. Cita-cita paling tinggi saya adalah ketika saya berumah tangga nanti, saya harus sukses mengurus anak-anak saya, jadi anak soleh-solehah, cerdas, berprestasi, peduli dengan orang lain, dll dibawah bimbinganku sendiri, bundanya. Saya harus sukses menemani suka duka suami saya, membantunya mengerjakan pekerjaannya dari yang remeh ke yang sangat membebaninya pun, menyiapkan pakaiannya untuk kerja, memasakkannya makanan yang paling disukainya, dan dapat komentar seperti diatas itu tuh rasanya kita dituduh belum jadi perempuan yang utuh 😦

Hehehe

Saya perbaiki dulu padanan kata saya yah. Okeh lanjut.

Kepikiran dengan kalimat itu, saya memutuskan pulang ke rumah. Kebetulan bapak dan mamak juga harus ke Makassar jadi saya memang dibutuhkan pulang untuk mengerjakan kebutuhan tiga adik saya yang masih sekolah. Ammar, ima dan nurul. Terutama ima dan nurul sebenarnya. Mereka masih SD, masih manja, dan masih gampang dibuat menangis. Hihihi. Intinya seminggu ini saya dapat percobaan untuk latihan jadi ibu rumah tangga yang baik. Dan rasanya? Hum.. Hum.. Humm

Pagi-pagi sekali harus bangun siapkan sarapan, bangunkan tiga boncis itu buat salat subuh, ke dapur lagi, nyuruh boncis itu nyapu di halaman dan beri makan ayam, amma nyapu dalam rumah, beresin tempat tidur, nyuruh boncis mandi, mereka sarapan, amma nganter mereka ke sekolah, pulang dari sekolah harus nyuci baju, siapin makan siang, jemput mereka di sekolah, makan siang, anter mereka ke tempat ngaji, amma belajar bentar, jemput mereka dari tempat ngaji, amma cuci piring, nyuruh boncis nyapu halaman lagi kalau mereka lagi malas berarti saya yang harus turun tangga eh tangan, nyiapin makan malam lagi, cuci piring, temenin mereka belajar, nonton, dan well tidak terasa waktu sudah jam 12 malam aja dan saya harus tidur atau kalau nggak besok gak bakal bisa bangun.

Seharian saya hampir tidak punya waktu untuk diri saya sendiri. Cuman sempat belajar itupun cuma sebentar sekali. Jadi tugas PK aku kapan bisa dikerjain? Jadi belajar IELTS aku? Huhuhuuu..

Fiuh tarik nafas sebentar.

Jadi Ams, ngurus rumah itu gak gampang. Yang gampang itu belajar terus kalo lapar beli makan, capek langsung tidur. Menjadi IRT itu gak gampang. Yang gampang itu kamu kerja jadi dosen dan semua urusan keluarga kamu diserahin ke….hayo siapa?

Dug. Termenung lagi. Terbayang pengabdian mamake.

Mamake adalah ibuku yang sangat ku cintai. Seorang guru di SMA negeri belakang rumah, seorang ibu yang dirindukan anak-anaknya, dan seorang isteri yang dijaga oleh suaminya, bapake. Mamake selalu ada di hati dan hari anak-anaknya. Sehari gak ketemu mamake, nurul sudah menangis nelpon bilang rindu sekali. Sehari gak ketemu mamake, Ima sudah mulai complain membandingkan kerja saya dengan beliau. Sehari gak ketemu mamake, Ammar makin senang punya waktu diluar yang banyak. Ckck, dasar remaja puber.

Kalau jadi ibu nanti, saya mau seperti mamake. Belum pernah dalam umurku yang 21 ini mamake tidak mendoakan keselamatanku, belajarku, kerja kerasku. Tidak pernah beliau tidak menyemangati, menghapus air mata, memudahkan urusan-urusan, menyayangi penuh, memanjakan. Ya Allah, betapa berharganya mamake untuk saya, untuk adik-adikku.

Saya tidak tau kemana arah tulisan ini, tapi saya senang sekali bisa pulang ke rumah. Kalau dipikir-pikir sudah terlalu lama saya menjalani LDR dengan orang-orang di rumah. Sejak SMA, saya sudah belajar jauh dari rumah. Atas nama kemandirian untuk masa depan, kenyamanan di rumah harus menjadi prioritas belakang. Tapi terimakasih juga pada jarak, saya belajar rindu rumah. Saya jadi tau, saat sedang di rumah, artinya saatnya untuk mengerjakan bakti anak. Waktu saya tidak terlalu banyak saya habiskan dengan keluarga saya untuk sekedar malas-malasan, bertengkar dengan adik, mengurusi urusan pribadi di hp. Better I hug my mom, kiss my sister, make fun with my brother and watch tv with my dad.

Jadi untuk calon suami kelak, (kenapa jadi bahas ini yah? Hahahaa. Biarlah.) kamu tau kalau baktiku akan berpindah dari ayah dan ibuku ke kamu. Dan InsyaAllah saya akan membantumu berbakti ke ibu dan ayahmu. Olehnya itu, saya ingin kamu tetap bijaksana, berbaik hati, untuk paham bahwa perempuan yang menyetia disampingmu nanti dulu pernah punya kehidupan bersama keluarganya. Maka otomatis kau juga perlu untuk tetap membiarkannya melakukan kerja-kerja anak ke kedua orangtuanya serta untuk memastikan hari-hari senja orangtuanya tidak hanya dilalui oleh mereka berdua. Dan dengan begitu perempuan yang membagi semua umurnya nanti denganmu, saya, akan lebih mencintaimu sepenuh hati.

Hehehe.
Sekian hari ini. :*

Advertisements

One thought on “Keluarga #1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s