Langit – Sepatu – Pojok


Sudah lama saya berhenti dari aktivitas memandang langit-langit. Padahal saya biasanya punya ritual itu, memandang langit-langit.

Langit kamar pernah ku tatapi lama sekali. Sebelum tidur, kala insomnia datang berkunjung, langit kamar pun mulai berubah wujud jadi wajahmu.

Sungguh, saya tidak berbohong. Awalnya fotomu ku cari di screenshoot hp ku yang paling dalam. Lalu hp saya sejajarkan dengan langit-langit. Melihat fotomu, menatap langit, melihat fotomu, menatap langit. Mungkin ada lima kali pergeseran dari hp ke langit – langit, lalu kemudian hp akan turun sendirinya terdekap di dada, dan wajahmu akan tinggal di langit – langit. Lalu sebentar lagi, saya akan tertidur sendirinya, membawa wajahmu ke dimensi berikutnya, mimpi.

Yang paling ku sukai adalah, kali terbangun pun, wajahmu masih ada menempel di langit – langit. Maka bayangkan betapa bahagianya saya! Bagaimana bertambah hari saya tidak makin suka padamu, kali pertama membuka mata saja sudah disuguhi senyum di wajahmu. Kan kata Rangga juga begitu? Hati-hati menutup mata, karena kau mungkin akan jatuh cinta di moment pertama membuka mata.

Tapi, seperti yang ku bilang tadi, itu dulu. Sekarang tidak lagi. Akhir-akhir ini saya tidur terlalu cepat, mungkin kecapaian. Tidak ada waktu untuk menjenguk binar matamu di langit – langit. Ditambah lagi, minggu kemarin saya dapat kecelakaan kecil. Di perjalanan pulang, saya jatuh tersungkur dari sepeda. Jatuh yang keras sekali. Bagian siku baju dan lutut celanaku jadi sobek. Sepatuku tergores. Bagian terparah, hp ku ikut-ikutan jatuh, dan membentur palang di pojok jalan, lalu kemudian hang dan setelah mencoba beberapa kali untuk menghidupkannya kembali, pas hp kembali nyala, entah kenapa semua data terhapus. Satu foto mu yang berhasilku curi itu dulu juga ikut lenyap. Dan sekarang tidak ada lagi cara untuk mendapatkan fotomu. Kita sudah tidak berteman di dunia maya. Tidak ada kesempatan untuk mendownload gratis fotomu. Huft.

**********

Tulisan absurd ini diciptakan dalam rangka memenuhi kelas menulis SIGi Makassar. Ditulis dalam waktu 30 menit dengan kata kunci: langit – sepatu – pojok. Aturan main sebenarnya adalah 5 – 10 menit, dan saya molor banyak. Tulisan ini juga bahkan masih ‘menggantung’. hahaha. Tantangan ini tidak mudah!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s