Kala Hari Itu, Kemarin


Huny, lama tidak berkirim kabar padamu. Ada kegiatan baru, yang amburadul tapi rutin dan sering ku lakukan disela-sela perkuliahan fisikaku yang tidak berbahasa manusia. Bersama konsep waktu-ruang Galileo aku menghayal. Khayalanku menemaniku menjenguk ingatan masa lalu. Masa aku dan kita dan senja dan senyum yang bersembunyi dibalik mata kita yang lama bertatap. Terakhir kali menghayal, kemarin, bertepatan dengan gelombang bunyi yang mengantarkan konsep relativitas khusus Einstein ke telingaku, suara-suara kita di masa lalu malah lebih dahulu mengetuk gendang telingaku, memblokir pengetahuan fisika baruku yang terlambat masuk.  

 

“Kalo terlalu sering ketemu, nanti jadi kebiasaan. Bagaimana kalo saking terbiasanya nanti sampai tidak bisa kalau tidak lihat Are lagi?”

“Tenang Fafa, saya akan selalu pulang. Tidak peduli berapa lama pergi saya akan tetap pulang. Jadi jangan khawatir.”

 

Itu hari dimana kau menggenggam erat tanganku, melagukan janjimu. Kala itu meretas pula pertahananku hingga ku iyakan dan balas ku genggam tanganmu. Lalu melonjak angan ke suatu kali yang lain…

 

 “Capek yah? Bibirmu pucat, keringatan pula…”

“Tidak kenapa-kenapa kok, memang penampakanku setiap hari begini..”

“Sini mukanya, lain kali bawa tissue yah, kan tidak bisa selalu ada buat ngelap keringatnya Fafa…”

“Eh iya.. iya.. makasih yah Paddlepop.. xixixixiii”

“Dasar nakal.. hahaha”

 

Terekam terlalu jernih Hun, hingga bahkan dalam imaji, kerutan khawatir di keningmu kala itu seperti bisa ku sentuh. Saat itu lewat jantungku yang mendetak tak wajar aku selalu berharap Tuhan memberi kuasa untuk memblokade sejenak dinamika waktu. Mengekalkan kita sedikit lebih lama. Fiuh…  

Dan ingatan itu beranjak lebih jauh…

 

“Percaya tidak Fa, waktu masih kecil, saya pernah sama kak Ali jalan kaki dari rumah sampai sini buat mancing ikan?”

“Heh? Serius? Sampai ke anjungan sini?”

“Ia.. hebat kan? Tapi karena dulu masih kecil jadi yah dikit-dikit digendong kak Ali gitu… wakakakakakkk”

“Yeah apanya yang hebat? Huahahahaaa”

 

Lalu melompat ke segmen dimana segalanya berhambur, tepat seperti ratusan kelereng yang terlepas dari tangan…

 

“Apa dikampus Fafa punya teman laki-laki yang selalu ada buat Fafa, selalu menolong pas butuh, baik akhlaknya, suka buat senang Fafa, bisa ngimbangin porsi makan Fafa, apa ada?”

“………..” “Memang ada cowok seperti itu Re? Sempurna sekali. Aku gak punya. Are punya teman seperti itu?”

“…………………………………”

“Bukan seperti itu, tapi yang lebih baik dibanding saya, ada?”

“………” “Xixixi, saya paham maksud pertanyaan Are. Re, untuk melepaskanku, tidak harus ada yang lebih baik dari Are kok, kalau Are memang terbebani dengan keberadaanku selama ini, tanpa harus ada orang lain yang lebih baik, Are boleh pergi…”

“Saya tidak bisa liat Fafa terus menerus kecewa. Lihat Fafa yang sedih jadinya malah dihati jauh lebih sakit. Jadi biar Fafa tidak sering-sering kecewa, kita kembali jadi teman biasa saja.” “……………….” “Jadi, biarkan kali ini terakhir saya bilang sayang ke Fafa. Sungguh saya teramat sayang. Di dunia ini setelah ibu saya tidak pernah menyayangi perempuan lain sesayang saya ke Fafa, tapi…”

“Ia, diselesaikan disini saja. Makasih yah Are…”

 

Dan itu adalah fragmen yang ingin ku buang, kudambakan lenyap. Karena sakitnya bermigrasi sampai ke sumsum tulang, sampai ke bulat alveoulus, sampai ke nadi, sampai tak menyisakan selain rasa sesak yang dihisap diafragma.

 Dan kenangan itu saling bertumpuk, saling menutupi, sampai tidak ku kenali rentang peristiwanya, saling berganti-ganti…

 

 “Yakin tidak kenapa-kenapa, Fa? Huhuhuuu, baru sekali jalan sama Fafa udah hampir keserempet angkot…”

“Nama lorong ini bukan lorong Mirota lagi yah, tapi kita ganti jadi lorong Cinta aja, kan disini lorong rumahnya my Fafa… xixixixiii..”

“Eh iya deh.. Saya ngalah.. Saya memang bau.. Huh.. Resiko terlalu cinta, apa-apa mesti ngalah.”

“Allahu yahfayuki wa yar’aki”

“My Faf, belum punya buku Bilangan Fu-nya Ayu Utami kan? Tak beliin buat Fafa yah, I love you..”

“…………………………………………”

“…………………………………………”

“Tapi yang jelasnya cantikan Fafa kok daripada bulan purnama.. xixixixiii..”

“…………………………………..”

“………………………………………”

“……………………………………”

“……………………………………”

“Merindu trans jogja yang membawa kita menyesapi ramai malam di kota Jogja, menikmati kedekatanmu.. Xixixi.. Lailatukissa’adah”

“……………………………………..”

“…………………”

“Anggap saja cintaku sudah habis di Fafa, jadi tidak ada buat yang lain..”

“………………………………………..”

“……………………………………..”

“Yang salah adalah jika dua hal yang sudah tidak saling nyaman tapi dipaksakan tetap bersama.”

“………………..”

“…………”

“….”

 

Akhirnya semuanya kabur. Yang nyata kemarin menjadi maya hari ini. Satu-satunya yang pasti adalah rasa nyeri di bagian bawah rusuk kanan. Aku jelas masih belum bisa melupa. Apa di penghujung jalan kita masih akan bertemu? Itu pertanyaan yang selalu ku ulang pada Tuhan. Dan belum terjawab.

Maaf memanggilmu Huny di awal paragraf. Ini sebatas klimaks rindu yang coba ku atasi sendiri. Tolong jangan marah, toh kau bahkan tak tahu tulisan ini ada. Selesai meruah rindu coretan yang ku buat ini juga akan menjadi abu. Kau tak perlu khawatir, gaung nestapa ku hanya akan mengenaiku saja. Semoga kau selalu bersama kebaikan, tutupku.

 

***************************
Tulisan ini sudah pernah diposting di fiksimanis.blogspot.com. Silahkan kunjungi websitenya yah, banyak cerita menarik disana.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s