Tidak Ada Adzan di Mesjid Kotaku


Jurnal Ramadhan. Day 1. 

Welkom De Maand Ramadhan.

By request oleh orang-orang terdekat, insyaAllah setiap hari saya akan menulis pengalaman berpuasa disini.

Disini dimana?

Dag. Alhamdulillah tahun ini bisa menikmati rezekinya Allah berpuasa di Utrecht, Netherlands. Saat ini saya sudah more or less empat bulan belajar di Universiteit Utrecht, sedang berjuang untuk menyelesaikan magister tepat waktu dengan hasil yang memuaskan. Aamiin ya Rabb.

Utrecht adalah kota kecil yang strategis, bertempat di jantung Belanda. Berada ditengah-tengah, memudahkan penghuninya untuk bepergian kepenjuru Belanda lainnya dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama.

Di Utrecht ada banyak mesjid besar, tapi yang saya tahu baru empat, hehe. The most accessible is Ulu Mosque, 10 menit berjalan kaki dari Utrecht Centrumzidje. Mesjid Turkey terbesar disini. Selain orang Indonesia, muslim major juga disumbang oleh orang-orang Turkey. Mereka malah jauh lebih banyak. Mesjid kedua ada di kawasan Winkel Centrum Overvecht. Nah rumah saya 5 menit bersepedaan dari sini. Satu lagi adalah masjid di Stichting Alfitrah (In Dutch, kata stichting berarti yayasan), Islamitisch Centrum di jalan mortangesdreef 41, dan yang terakhir di Stichting Generasi Baru (SGB).

Yang terakhir itu namanya ke-Indonesian-yah? Iya benar. SGB sebenarnya belum menjadi mesjid. SGB, officially, terdaftar sebagai pusat Islamic Culture Indonesia. Tapi InsyaAllah sekarang sedang mengumpulkan donasi untuk membangun rumah syurga, mesjid Indonesia pertama di Utrecht. Kali aja teman-teman ada yang mau ikut berdonasi, boleh hubungi saya, nanti saya kenalkan ke contact person SGB. hehehe.

Jangan kira walaupun 90% populasi di Belanda memilih untuk golput beragama, lantas rumah-rumah ibadah disini tidak menjulang tinggi. Mesjid-mesjid dan gereja tetap berdiri dengan megah. Hanya saja, tidak seperti gereja-gereja yang gaung loncengnya masih kadang kedengaran, mesjid disini bisu. Orang-orang tetap datang hilir mudik untuk sholat tentu saja, tapi tidak ada suara adzan yang keluar dari menara pengeras suara mesjid.

Ada masalah dengan itu? Tidaklah.. Alhamdulillah orang disini punya toleransi beragama yang sangat baik. Sikap mereka adalah perpaduan respect dan juga cuek. Respect dengan beberapa gedung di kampus yang menyediakan ruang khusus untuk beribadah, dan juga cuek karena yah hidupmu – hidupmu, hidupku-hidupku. Hihihi.

Orang yang menulis ini hanya sedang rindu pada ramadhan yang ribut dengan suara adzan sebenarnya. Makanya disini, tanpa shalawat dari speaker mesjid, adzan, iqamah, serasa… fiuh..

Kuatkan hati yang rindunya terlalu berat ini ya Allah :’)

Tidak apa, suara adzan bisa dicari youtube. Lagian kasih sayang dan pengampunan Allah selalu dekat dan jelas tanpa harus digaungkan keras di mesjid-mesjid.

Semoga ramadhan tahun ini bisa lebih mesra denganMu dari ramadhan yang sebelumnya. Aamiin ya Rabb.

*********************

Tulisan ini diikutkan dalam tantangan kelas menulis Sigi Makassar #SigiMenulisRamadhan. Baca tulisan teman lain di:

  • bukanamnesia.blogspot.com;
  • nuralmarwah.com;
  • inanovita.blogspot.co.id;
  • burningandloveable.blogspot.com;
  • inditriyani.wordpress.com;
  • rahmaniarahman.blogspot.com;
  • kyuuisme.wordpress.com
Advertisements

5 thoughts on “Tidak Ada Adzan di Mesjid Kotaku

    1. doakan istiqamah bang nulisnya. biasanya semangatnya awal-awal doang soalnya. hahaha

  1. Mbak ambil megister di Universiteit Utrecht, Wahh.. Senior saya ada yang mau belajar disana juga tahun ini, dia lolos seleksi beasiswa LPDP.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s