Taraweh Sendiri


Jurnal Ramadhan. Day 3.

Saya sedang membenahi mukena saya yang sedikit bergeser ke kanan saat sebuah pesan masuk dari nomor dengan awalan +62 muncul dipermukaan screen hp ku.

“Gimana puasamu? Lancar?”

Saya tersenyum. Cepat membalas, “Iya Alhamdulillah. Udah buka puasa dari tadi. Ini sebentar lagi isya.”

Belum sempat berkedip, pesan berikutnya sudah kelihatan lagi. “Tidak ke mesjid buat taraweh?”

Ku balas, “Nope. Disini Isya jam 12 malam. Mesjid jauh. Rata-rata pada taraweh sendiri di rumah.”

Pesan terakhir muncul, “Hahaha. Wes, yang penting taraweh. Entah di rumah atau di mesjid.”

 

Hemm.. Yah, agak sedikit complicated untuk mendapatkan kenikmatan taraweh berjamaah disini. Maksud saya, saya sudah terbiasa dengan format taraweh di mesjid + mendengarkan ceramah agama. Hal ini sudah menjadi rutinitas sendiri di kampung. Di Maroangin, dulu waktu motor di rumah cuma ada satu, bapak akan memaksa semua anak perempuannya untuk ikut sholat taraweh berjamaah di mesjid. Motor tua itu pun menjadi saksi ‘keindahan’ bonceng 4 antara bapak, aku, Ima dan Nurul. Bapak bukannya tidak tahu kalau anak perempuan lebih baik sholat di rumah. Hanya saja entah kenapa jika menyangkut sholat taraweh, ajakan ke mesjidnya lebih terasa sebagai paksaan. I do not know what the main reason, tapi sepertinya bapak tidak percaya kami benar-benar akan melaksanakan taraweh 8 rakaat jika di rumah. Hahaha.

Disini, beberapa mesjid juga begitu. Isya, taraweh dan ceramah agama. Hanya saja tidak ada yang berbahasa Indonesia, even English. Penceramah di mesjid Ulu Mosque berbahasa Turki, mesjid-mesjid yang lain juga bernasib sama. Kalau mau dapat ceramah live, harus menunggu jadwal buka puasa bersama di SGB setiap hari sabtu. Hehehe.

Tapi saya benar-benar ingin ikut sholat taraweh berjamaah. Itu karena di shalat taraweh berjamaahlah, saya bisa menikmati sholat dengan lantunan Al-Quran yang merdu dan bacaan surah-surah yang panjang.

Sedih sekali rasanya mendapati kenyataan setiap kali sholat, hapalan Qur’an saya begitu-begitu saja. Tidak ada kemajuan. Ayat itu terus yang diulang-ulang, sampai bosan. Kemarin saat shalat sendiri, saya menyiapkan Al-Quran disamping saya. Delapaan rakaat taraweh sukses ku lalui dengan sholat sambil membuka Alquran. Duh Ya Allah 😥

Ya Allah, bagaimanapun keadaan hidupku, semoga saya tetap menjadi hambaMu yang selalu berbenah. Semoga saya bisa masuk ke syurgaMu. 😥

*********************

Tulisan ini diikutkan dalam tantangan kelas menulis Sigi Makassar #SigiMenulisRamadhan. Baca tulisan teman lain di:

  • bukanamnesia.blogspot.com;
  • nuralmarwah.com;
  • inanovita.blogspot.co.id;
  • burningandloveable.blogspot.com;
  • rancaaspar.wordpress.com
  • inditriyani.wordpress.com;
  • rahmaniarahman.blogspot.com;
  • kyuuisme.wordpress.com
  • sriwahyunifisika10.blogspot.com
  • begooottt.wordpress.com
  • uuswatunhasanah.tumblr.com
  • ayutawil.blogspot.co.id

 

Advertisements

2 thoughts on “Taraweh Sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s