Mijn Vader


Jurnal Ramadhan. Day 14. 

Sebuah pemberitahuan muncul di facebook pagi ini:

Happy Father’s Day. Thanks to dads everywhere for their big hearts and big hugs. 

Kebetulan, baru beberapa jam yang lalu aku menelpon bapakku. Bukan untuk mengucapkan selamat hari ayah, tapi karena sebelumnya chat di whatsapp dari adikku datang dan bilang: Kak, menelpon ki dulu, mau bicara bapak.

Tidak biasanya bapakku minta ditelpon. Selalunya aku yang menelpon duluan untuk sekedar menanyakan kabar. Makanya, cepat-cepat ku sambar hapeku yang satu, beli paket pulsa international, dan dial nomor bapak. Pikirku, ada sesuatu yang sangat penting yang butuh dia sampaikan. Jangan-jangan saya mau dijodohkan. (huahahahahaa. Ini mah maunya saya saja)

“Assalamualaikum.” Suara bapakku menjawab salam di ujung sana.

“Kau Amma nak?” “Iye pak. Kenapaki?” “Tidakji.” “Tadi ammar bilang mauki ditelpon, kenapai?” “Ah tidakji. Mau ko bicara sama mamakmu?”

Jegyar. Hahaha. Sesingkat itu pembicaraanku dengan bapak. Telpon dialihkan ke ibuku dan kami membahas banyak hal. Mulai dari sepupuku yang sudah hamil beberapa hari yang lalu, Nurul yang peringkatnya turun tapi itu katanya karena dia tidak nyontek selama ujian sedangkan teman-teman lainnya menyontek makanya nilainya tinggi-tinggi, Ima yang khawatir nanti akan kurus kalau sudah di Pesantren, keadaan nenek di kampung, dan masih banyak lainnya.

Sebelum mengakhiri pembicaraan, ibuku mempersilahkan bapakku untuk berbicara lagi padaku. Tapi bapakku menolak. Tidak tahan menahan kesal, aku pun protes.

“Apaji bapak. Gara-gara dia tommi ta menelpon baru ndak mauji bicara.”

“Begitu memang itu bapakmu. Tadi itu batena marah-marah mau minta ditelpon sama kau na kalau menelpon mako diammi. Mauji saja kalau dispeaker baru na dengar suaramu.”

Aku tertawa dalam hati. Mau sekali ketawa keras terus bilang: rinduki pasti sama saya toh pak tapi ndak mauki bilang-bilang. hahahahaha. 

Tapi tentu saja aku tidak akan ketawa. Tidak tega. Bisa-bisa malah kalau bapakku jawab: iya, terus gantian aku yang akan menangis karena terharu.

Well, sebenarnya itu tidak akan mungkin terjadi. Bapakku adalah tipe bapak asli to Mangkasara, tidak pernah bilang sayang. Yes, never since I was born that I heard my father told me that he loves me or he miss me so much. Never! Paling banter ucapan sayang dia mentok di: anakku memang ini. Jiah. Pelukan dan ciumannya juga berhenti saat aku masuk SMP. Sejak itu tidak pernah ada lagi.

Yah, berhadapan dengan kata-kata juga kontak fisik, bapak memang tergolong sangat kaku. Tapi tidak apa, sikapnya yang lain, seperti adegan telpon tadi, menurutku malah sangat menyentuh dan… romantis 🙂

Selamat hari ayah kalau begitu nah bapak.. Sehat-sehat ki selalu.. Tidak mauja juga bilang langsung ke kita, cukup ditulisan ini. Hehehe. Tentang cinta dan rindu yang manis, kita sepertinya sudah punya kesepakatan untuk tidak bilang langsung sama orangnya. Kita tunjukkan dengan cara yang lain tanpa orangnya harus tau. Bukannya dengan begitu cinta, sayang, juga rindu menjadi tidak bersyarat dih pak? Sayangki semenjak ku lahir sampai besok-besok.. 

*****************************************

Tulisan ini diikutkan dalam tantangan kelas menulis Sigi Makassar #SigiMenulisRamadhan. Baca tulisan teman lain di:

  • bukanamnesia.blogspot.com;
  • nuralmarwah.com;
  • inanovita.blogspot.co.id;
  • burningandloveable.blogspot.com;
  • inditriyani.wordpress.com;
  • rahmianarahman.blogspot.com;
  • kyuuisme.wordpress.com
  • begooottt.wordpress.com
  • ayutawil.blogspot.co.id
  • uuswatunhasanah.tumblr.com
  • rancaaspar.wordpress.com
  • sriwahyunifisika10.blogspot.com
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s