Yang Harus Kau Sembunyikan Rapat – Rapat


Tulisan Ramadhan. Day 15.

Dear Allahku. Jika suatu saat aku mengenakan gamis yang panjang, lengkap dengan hijabku yang menutupi dada juga tidak transparan, aku tahu teman-temanku akan mengubah pandangannya padaku. Berfikir, wah alhamdulillah amma makin sholehah. Amma sudah berhijrah semakin baik, yang dulunya pakai celana ketat sekarang busananya sudah syar’i.

Dear Allahku. Jika suatu saat aku semakin rajin ke pengajian, aku tau ibuku akan bangga padaku. Ibuku akan melihat anaknya mengalami kemajuan yang baik. Alhamdulliah pemahaman agama amma akan meningkat. InsyaAllah amma akhlaknya akan semakin halus kedepannya.

Dear Allahku. Jika suatu saat aku sering posting kegiatan sosial di facebook dan instagram, aku tau orang-orang yang tak mengenalku pun akan menilai aku sebagai orang yang dermawan. Wah dia punya jiwa sosial yang tinggi. Wah dia orang yang baik, sering berbagi ke sesama.

Padahal ya Allah, hanya Kaulah yang tau entah kebaikan atau keriyaan yang sebenarnya ku lakukan. Kaulah yang bisa membedakan apakah aku hanya pamer atau aku memang tulus. Dan aku takut dengan semua yang ku lakukan, timbangan Maha Adil-Mu akan mendapatiku sebagai orang yang tidak bertambah savings kebaikannya.

Karena Kau pasti tahu aku cuma memakai gamis karena gamis sedang trend dipasaran. Oh Allah, gara-gara film islami, orang-orang akhirnya memakai gamis, dan aku pun ikut-ikutan. Bukan untuk meningkatkan kualitas ibadah kepadaMu, hanya saja gamisnya kepalang cantik dan membuat orang yang memakainya terlihat santun. Gamis yang penuh motif cantik juga berwarna-warni itu bukan lagi menjadi pembatas interaksi dengan lawan jenis, melainkan menjadi poin tambahan untuk para ikhwan mengira kami sebagai ukhti yang sholehah.

Karena Kau pasti tahu, aku rutin ikut pengajian dengan niat cari jodoh. Oh Allah, umurku sudah berada dalam wilayah “sudah saatnya menikah”. Dan bukannya pengajian adalah tempat yang paling baik untuk cari perhatian? Bukannya dengan begitu ibu-ibu yang hadir akan merekomendasikanku ke bujang-bujang kenalannya? Wah, anak itu cocokloh buat dijadikan pendamping hidup.. bisa jadi ibu yang baik untuk anak-anaknya nanti..

Karena Kau pasti tahu, aku ikut acara-acara sosial biar bisa dianggap keren. Lumayan juga kan buat isi-isi CV buat daftar kerja?

Huhuhuhuu 😥

Sekarang aku mengerti kenapa Kau begitu sangat menyukai Uwais, kenapa Kau memberikan dia keutamaan yang tidak pernah Kau berikan kepada ciptaan mu sebelumnya. Uwais al-Qarny, pemuda yang tidak terkenal di bumi tapi terkenal di langit.

Bagaimana kau tidak menyayangi Uwais ya Allah, penampilannya sangat sederhana. Jangankan pusing bisa terlihat syar’i atau tidak, dia hanya punya beberapa helai baju untuk dia pakai. Dia sama sekali tidak mengejar dunia yang fana. Sebelum berbuat baik ke sesama, dia pastikan terlebih dahulu ibunya menerima baktinya.

Aku membayangkan Uwais hidup di jaman ini. Maka barangkali dia tidak akan punya akun medsos untuk mengiklankan dirinya sebagai orang yang keren/inspiratif/cerdas/dll. Tidak akan ada yang mengenalnya sebagai orang yang murah hati, toh pendapat manusia tidak penting untuknya. Dia akan sibuk membuat tangan kanannya melakukan kebaikan tanpa tangan kirinya perlu tahu. Ah Uwais 😥

Bisakah menjadi Uwais? Bisakah berbuat kebaikan tanpa ada yang tahu, tanpa pamrih? 😥

*****************************************

Tulisan ini diikutkan dalam tantangan kelas menulis Sigi Makassar #SigiMenulisRamadhan. Baca tulisan teman lain di:

Advertisements

2 thoughts on “Yang Harus Kau Sembunyikan Rapat – Rapat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s