Iftar with Syrian Girls


Jurnal Ramadhan. Day 21.

Semuanya berawal dari satu pertanyaanku ke Ahu, yang dia tanggapi dengan serius.

Rindu dengan masa-masa ngevolunteer di Makassar, saya bermaksud mencari tau kegiatan serupa yang barangkali ada di negara kaya ini. Saya menceritakan ke Ahu, di kota tempat saya tinggal, kita punya banyak komunitas sosial untuk melakukan kerja-kerja volunteering. Saya menceritakan SIGi yang secara rutin punya program berbagi kepada anak-anak panti asuhan, mengajar di daerah-daerah jauh, berdonasi, dan masih banyak lainnya.

Lalu Ahu mengabarkan, kurang lebih disini juga ada kegiatan seperti itu. Malah dalam waktu dekat, Time To Help Netherland, komunitas sosial yang Ahu maksud, akan mengadakan iftar bersama pengungsi Suriah. Ahu mengajak ku ikut serta melihat-lihat, dan tentu saja ku iyakan.

Jadilah, saat itu, sekitar 4 hari yang lalu kalau tidak salah ingat, saya, Ahu dan Sena (Ahu’s roommate) janjian kesana. Tempatnya tidak terlalu jauh dari kampus, sekitar 20 menit by bus.

IMG-20160627-WA0024.jpg

Sekitar 50 muslim Syria datang untuk berbuka bersama. Usia sangat bervariasi, namun most of them berada dalam usia produktif. Kalkukasi mentahku, 10% terdiri dari kakek nenek, 50% bapak-bapak dan ibu, 30% anak remaja dalam dalam usia sekolah dan 10% dedek-dedek kecil yang lucuuuuuuu..

Aku, Ahu dan Sena duduk bersama dua gadis cantik dan cerdas, Rama dan Maryam. Rama, berasal dari Damaskus, sudah 5 bulan berada disini sedangkan Maryam, berasal dari Aleppo, baru sampai 3 bulan yang lalu.

Percakapan kami sangat lucu. Prediksi awalku, saya akan bebas berkomunikasi karena mengira mereka bisa berbahasa Inggris. Tetot, saya salah besar, lupa mempertimbangkan kalau of course bahasa mereka adalah Arabic. Untungnya, kali pertama mereka datang kesini, oleh Dutch Goverment, mereka langsung disekolahkan dan diberi kursus gratis bahasa Belanda. Jadilah, Ahu yang memonopoli percakapan, dan bolak balik memberikan translate bahasa Inggris untukku. Thanks Ahu 🙂

Rama dan Maryam, mereka masih SD dan sangat cerdas. Baru tiga bulan, dan kemampuan linguistik mereka sudah sampai pada level functional. Coba bandingkan dengan mahasiswi ini yang sampai sekarang masih stuck di dag, dank u well, and tot ziens. Hahaha.

Saya selalu berdoa semoga mereka semakin aman disini. Rama, Maryam, wait until I can speak fluent Dutch and we can talk again sometimes 🙂

IMG-20160627-WA0020.jpg

*****************************************

Tulisan ini diikutkan dalam tantangan kelas menulis Sigi Makassar #SigiMenulisRamadhan. Baca tulisan teman lain di:

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s