Menerka-nerka


Sejak aku bilang padamu, aku menyukai seseorang lainnya, aku tau kamu sudah berhenti khawatir padaku. Dulu aku tau, diam-diam kau terbebani denganku yang masih menyimpan rasa buatmu. Bodohnya, aku menyukainya. Suka kau terbebani. Dihatiku, tidak masalah aku menjadi apa saja asal bisa terikat denganmu. Menjadi kesedihanmu tidak apa, asal kau tetap mengingatku. Menjelma sesuatu yang kau rutuk juga tak apa, asal kau tidak melupakanku.

Tapi aku bilang, hatiku sekarang sudah condong kepada seorang yang lain. Meski begitu, aku selalu suka rindu kamu. Bukan untuk membuatmu merasa bersalah lagi. Kali ini rinduku punya warna yang hangat, tidak akan menyakitimu.

Sedikit demi sedikit, hati merambat pelan. Sepelan aksara agak terbata-bata dalam menuturkan kalimat adiksi tentang seseorang yang menunggu untuk digenapi. Kau hal yang paliiiiingggg indah yang pernah ku rasakan saat ini. Tapi ‘paling’ bukan puncak segalanya. Di duniaku, paling punya lapis-lapis puncak. Untuk itu aku percaya, meski kau sudah menjadi yang paling indah untukku, aku tetap akan menemukan sesuatu yang indah nanti, entah bersama seseorang yang ku sukai itu, atau seseorang lainnya yang tertakdirkan.

Dan aku masih suka kau perhatikan. Aku menyukai kamu yang memastikan bahwa aku baik-baik saja, setelah tanpamu.

Advertisements

5 thoughts on “Menerka-nerka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s