Surat yang Membicarakan Khil #2 (Wajah Paris)


Hi Khil, apa kabarmu?

Aku semakin bingung tentangmu. Kau seperti menghilang, tidak tau dimana. Tapi kadang kau tiba-tiba datang dengan chat ceria. Lalu ngobrol ngalur-ngidul membicarakan masa lalu. Masa-masa kita aktif bertualang di bangku kuliah. Hehe, aku lebih tepatnya yang bertualang dan kamu sibuk di laboratorium. Masa-masa dulu kamu sering protes karena aku suka minta dijemput dari arah yang tidak terduga-terduga. Kadang minta di jemput di pelabuhan Poetere, di danau Lakkang, di Antang, di Balla Lompoa, di anjungan Losari ataupun di sudut-sudut kota yang tidak bisa kau mengerti apa yang membuatku berakhir ditempat itu. Sebal – sebal begitu, tapi kau tetap datang menjemputku Khil, padahal aku tau jarak lab pun rumah mu terlampau jauhnya.

Tapi, dari setiap chat-chat itu, tak sedikit pun kau memberi keterangan dimana kau sekarang. Apa yang kau kerjakan untuk hidupmu. Setiap kali ku tanyakan tentang tujuan mu yang terakhir, kamu cuma berucap: doakan saja semuanya lancar 🙂  Namun, pengharapan apa yang akan ku sampaikan kepada Tuhan kalau aku tidak punya informasi sedikitpun atas apa yang kau perjuangkan sekarang?

Dan sekarang, aku benar-benar ingin pesanmu datang. Ada sesuatu yang ingin ku ceritakan padamu. Hal yang remeh sih. Hanya saja aku cuma mau bercerita dengan mu. Itu satu hal yang tidak bisa ku pungkiri. Tidak ada teman senyaman kamu untuk bercerita. Sayang, pesan yang ku kirimkan di nomor terakhir yang kau pakai untuk menghubungiku tidak terkirim.

Khil, kau tentu masih ingat episode bodoh yang ini: Aku menunggui kamu di lab sembari menonton film Para Pemimpi di laptopmu. Aku menangis ribut sekali sampai kau harus menghentikan apa yang kau kerjakan dengan kabel-kabel di tanganmu itu. Menghampiri dan bertanya, kamu kenapa sih? Terus aku jawab, aku senang Ikal dan Arai baikan lagi. Tapi kenapa Jimbron harus menyerah sama mimpinya? Aku tau mereka akan berhasil ke Paris. Dan sambil menyeka air mataku yang sudah bergabung dengan ingus, aku bilang padamu, aku juga suatu saat ingin kesana. Lalu kamu mengaminkan sembari tersenyum.

Yang mau aku bilang, akhirnya sebulan yang lalu aku benar-benar kesana, Khil. Ke depån Eiffel! Pengen sekali ketemu Arai dan Ikal terus ngomong: aku berhasil kesini karena, seperti kalian, aku diberikan izin oleh Allah untuk menggapai mimpi yang ku tekuni sejak dua tahun yang lalu. Terimakasih, tanpa kalian sengaja, kalian meminjamkan semangat dan keyakinan untukku yang akhirnya bisa ku wujudkan. 🙂

Paris adalah kota yang menyimpan raksasa-raksasa yang diam. Dari luar, gedung-gedung megah berdiri kusam, seperti tak terawat, tak berhuni, tak menyimpan kemewahan apa-apa, namun begitu kau melewati pintunya, kau terkesima dengan hal-hal yang dia sembunyikan.

Oh iya, aku sebenarnya mengunjungi Paris untuk membayar keinginan anak kecil berumur 7 tahun dalam diriku. Anak kecil yang besar di sawah, sukanya main masak-masak di kebun, yang tidak pernah menyaksikan keasyikan Dufan itu seperti apa. Aku datang ke Paris untuk menggali kembali keinginan yang sudah lama anak kecil itu timbun dalam-dalam. Ke sebuah tempat yang jauh lebih besar dari sekedar Dufan, I went to Disneyland!

It was so nice and filled with excitement. Ditambah dengan perjalanan hari berikutnya mengunjungi Eiffel tower, monument Arc de Triomphe, and the Leovre museum with the giant glass pyramid and sculpture of Italian Renaissance.

Tapi aku tidak bisa bohong kalau Paris sejujurnya meninggalkan kesan yang sedih buatku. Mungkin karena aku cuma mengelilingi Paris selama sehari, aku juga tidak ingin menjudge Paris dengan first meeting kami, tapi…

Paris yang ku temui adalah kota yang berwajah muram. Di bawah Eiffel yang menjulang tinggi, gagah, ada orang-orang yang hidupnya menjarah tas-tas orang lain hanya untuk menyambung nafas.

Aku tidak berbohong. Aku menyaksikan sendiri bagaimana perampok-perampok itu, berkelompok, memasang wajah yang lugu minta dikasihani. Dan semua orang tahu, hanya mendiamkan.  Di bagian Paris yang ini aku merasa, bagi sebagian orang, bertahan hidup sudah menjadi sesuatu yang mereka perjuangkan sekuat mungkin, meski dengan cara yang salah.

Kegamangan paris sangat kental terasa. Terutama di sisi – sisi gedung yang megah, dimana beberapa orang tidur beralaskan lantai yang beku. Paris akhir-akhir memang dipenuhi oleh refugees. Keamanan menjadi super strict, untuk memastikan tidak ada hal-hal yang dapat mengancam ketenangan. Beberapa migrants dan refugees sudah mendapatkan perhatian, beberapa juga masih tertolak dan belum mendapatkan tempat. Sekarang kau bisa merasakan bukan betapa dilemma nya Paris? Seperti orang yang rela mengulurkan tangan tapi juga takut dilukai. Seperti orang yang bersemangat untuk ikut bermain lumpur tapi takut kotor.

It seems like life is just so easy for some people but a whole time war for others. Doesn’t feel fair, Khil. Bukannya everyone has their own battle? Yeah! Tapi juga gak bilang in a same level of battle sih. Bleh! The most ironic part, I could not do something except praying for them, and to live my own life with the best I can.

Fiuh.

Khil, hubungi aku lagi yah. Just make one phone call for me, ok?

Yang siap untuk menjawab telepon anonim, sahabatmu.

~~~~~

Baca surat pertama Khalta untuk Khil di Surat yang Membicarakan Khil #1 [Tentang Aachen]. Enjoy the reading!
Advertisements

4 thoughts on “Surat yang Membicarakan Khil #2 (Wajah Paris)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s