Surat yang Membicarakan Khil #3 [Menjenguk Dunia Dongeng, Praha]


Khil, my one and only dude.

Aku menulis lagi untukmu. Sama sekali aku tidak berharap kau harus membaca suratku ini. Kau tidak terjangkau, dan aku hanya bisa mengasumsikan kalau kamu sedang sibuk belakangan ini. Sibuk yang membuatku kesal karena kau tidak pernah lagi menyapaku.

Aku juga ingin sekali menghilang seperti kamu. Bagaimana kamu melakukannya? Bagaimana kamu menikmati hidupmu tanpa terlihat orang lain? Yang aku tau orang-orang sekarang berlomba-lomba memperlihatkan semua yang mereka punya ke dunia. What they eat, they do, they feel, what they listen to, what they read, and so forth. Kau bahagia? Ku amati orang-orang baru akan senang jika orang lain menyukai eksistensi mereka, lalu memberikan pujian yang ribut di kolom komentar yang panjang. Tapi kamu tidak begitu. How did you manage to do that? Tell me.

Aku termasuk orang yang latah dalam bergaul Khil, you know that. I am actually a loner, a quiet girl who try to show my existence. I am practically an introvert who struggle to move from my comfort zone, and become more and more extrovert.

For some reason, I hate people. I mean, I hate being surround by people who did not appreciate me enough. I better stay in library, dating with my book for weeks, instead of meeting people and have to socialise with them. I am tried to pretend to enjoy the conversation because deep down in my mind, I just want to go home and talk with my world in the book.

Aku hanya suka anak-anak kecil. Giving kisses, hugs, and telling stories about Le Petit Prince atau kisah sahabat nabi, or folk tales dari kampungku, Enrekang. Any way bicara tentang cerita anak-anak, beberapa bulan yang lalu aku berkesempatan menjenguk kota Prague,  tempat yang menurutku sangat mirip negeri dongeng.

Ceritanya seperti ini:

I got my holiday in the last summer, and I had no plan how to kill my time. Hari-hari pertama cuma di rumah, malas-malasan sambil puasa syawal, baca novel, maskeran, nyoba masak sendiri, dan aktivitas yang lain yang orang anggap ‘perempuan banget’. Karena bosan, secara mendadak aku akhirnya memutuskan melarikan diri ke Prague.

Tidak tahu sejak kapan aku kerasukan virus jalan-jalan. I mean, selama sekolah di Indo dulu, libur panjang dan cuma stay di rumah membaca, I was fun with that. Sekarang, mungkin karena: study hard play hard, kamu di Europe dan gak kemana-mana? Sayang banget cuma di rumah,  aku akhirnya merasa gatal sendiri untuk menikmati udara di luar rumah.

Kenapa Praha? Karena. Hehehe. No reason, Khil. Hanya lagi pengen saja. Rencana yang spontan sebenarnya sangat bukan Dutch culture. Disini, kamu harus mencatat agenda kamu jauh hari lengkap dengan tanggal dan exact timenya. Ketidakteraturan adalah kecacatan. Masuk akal sih. Di kasus ini, kespontanan mendatangkan kesulitan untuk mencari tiket yang murah untuk bepergian. Hehehe.

Berhasil meyakinkan teman kamar bahwa we deserve to not only sit behind the desk but to explore new place, aku akhirnya mendapatkan teman perjalanan.

Prague adalah kota yang sangat ku sukai, sejauh ini. Tiga hari disana, aku puas bolak balik mengunjungi the Dancing House, kota tua Praha, jembatan Karluv Most, dan kastil tua Prague yang magis.

Seperti yang ku bilang tadi, Prague lebih mirip kota fairy tales dibanding kota-kota yang dihuni peradaban modern. Waktu berhenti di Prague Khil, atau mungkin waktu malah melaju cepat sekali bersama dengan keindahan yang dikandung Prague. Aku tidak bisa membedakan. hehe.

Aku akan mulai bercerita dari jembatan Karluv Most, yang juga dikenal dengan nama Charles Bridge. Di inti Prague ada tiga jembatan yang besar, satu diantaranya yang paling special adalah Karluv Most. I dont know much about the history behind, tapi Karluv most adalah jembatan yang dipenuhi dengan ornamen-ornamen patung tua yang kaya cerita. Salah satu diantaranya adalah patung St. John of Nepomuk. Patung yang selalu disentuh oleh tourist karena dianggap bisa membawa keberuntungan, dan untuk memastikan orang-orang akan datang lagi kedua kalinya ke Prague. Di bawah jembatan mengalir sungai Vlatava. Aku jatuh cinta dengan nama ini, Vlatava. Sama jatuh cintanya dengan tragedi yang disaksikan sungai ini. The moment when Quen Johanna confessed her love to the saint but the saint have to face his death, drowned into Vlatava.

Dari Karluv Most kita juga bisa mengamati kastil Prague dari kejauhan. Kunjungilah Karluv  Most saat matahari mulai terbenam. Sebab warna langit saat matahari jatuh selalu ungu disini. Selalu. Dan begitu lampu-lampu jingga mulai nyala, lonceng-lonceng gereja sahut menyahut, pemandangan dongeng itu bisa tersuguhi di depan mata. Istana Praha menyihir semua yang memandangnya untuk berhenti, dan menjadi satu-satunya pusat perhatian.

Aku ingin mendatangi Prague, lagi dan lagi. Aku ingin hanya duduk menikmati ice cream tredelnik yang sampai sekarang tidak bisa ku lupakan rasanya. Di kanan kiri orang berlalu lalang menikmati hidup, bermain biola, menyanyi, berdansa, atraksi, tertawa. Di Prague, senyum dengan ikhlas terlepas. You forget all your d*mn problems, assignment overloaded, unsatisfied grade, burden that people put on your shoulders, everything that makes your life s*cks. Haha.

I didn’t mean to spell any mean words in my letter to you, but yeah let it be. hehe. I mentioned it because that was how I feel right now.

Khil, aku masuk dalam usia dimana aku harus membuktikan that I am (or will be) a great woman, that I have to prove I am useful for another, that I should make any progress every day, that I should be a better person for others, that I have to achieve something in order to make my self meaningful to others. And you know what Khil? I almost feel that I can’t do that.

I know I am strong Khil, but exhausted. Luckily, I have a glimpse of faith to God in me. I am not a type of a religious woman. I just try to always lean on all my problems to Allah. All the things that happen to me, I always ask Him to strengthen me. He is the One with all the power. Without His strength, I might end up suffering a lot. Yeah I am exhausted, but I still have the energy to continue my own battle. InsyaAllah.

Ku tutup suratku disini. Aku tau ceracauanku masih sangat menggantung untukmu, tapi siapa yang peduli? Kau belum tentu membacanya. Tidak ada gunanya juga. Malah semoga, dengan semua ketidak-jelasan yang ku tulis disini, kau mau membalas suratku dan mengajukan pertanyaan yang mungkin isinya: Apa yang sebenanrnya ingin kau ceritakan lewat suratmu? Ceritamu melompat-lompat tidak beraturan..

Who knows? 🙂

Dariku yang semakin hari semakin kehilangan kata-kata, Kaltha.

~~~~~

Baca surat pertama dan kedua Khalta untuk Khil disini:
Surat yang Membicarakan Khil #1 [Tentang Aachen]
Surat yang Membicarakan Khil #2 (Wajah Paris)

 

Advertisements

3 thoughts on “Surat yang Membicarakan Khil #3 [Menjenguk Dunia Dongeng, Praha]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s