Memilih


Mencari pasangan hidup yang ideal, ada kriterianya. Secara umum yang pertama adalah kesholehan, dan yang kedua adalah kita suka sama dia, nyambung. 

Kita sebagai wanita, suka sama dia, cocok. Secara tabiat kemanusiaan. Jadi kita suka fisiknya, kita nyambung berkomunikasi, kita senang sama dia secara manusia. Kriteria ini yang dijelaskan oleh ulama fikih. Dan ini yang tidak diketahui oleh banyak orang. Jadi islam itu agama yang sesuai fitrah. Fitrah yang  Allah masukkan kedalam diri manusia. Dia yang menciptakan kita, maka dia yang paling tahu bahwa kita sebagai lelaki tertarik kepada manusia secara manusiawi, secara fisik, secara tabiat. Hal yang sama juga berlaku untuk wanita. Dan Allah tidak menghilangkan unsur tersebut dalam pernikahan. Allah mengakomodir. Allah memasukkan itu dalam unsur fikih pernikahan. Karena Allah yang menciptakan kita maka Allah yang paling tahu bahwa kita harus ada perasaan kepada lelaki tersebut, harus tertarik. Atau dalam bahasa sekarang, harus jatuh cinta. “Bukankah yang menciptakan lebih tau tentang anda?” Oleh karena itu syariat Allah tidak mungkin bertentangan dengan fitrah.

Jadi ketika ingin menikah, lalu kita kesampingkan perasaan kita dengan alasan yang penting dia udah ngaji, yang penting shalat lima waktunya udah bagus, padahal kita gak suka sama dia, ini keliru. Dan ini tidak sesuai dengan fitrah manusia. Dan catat baik-baik, tidak semua orang sholeh itu cocok digabungkan. Yang A sholeh, yang B sholeh, tidak lantas jika disatukan bisa cocok, nyambung. Ingat saat rasulullah saw menyatukan muhajirin dan anshar? Beliau menyatukannya satu persatu, tidak keseluruhan secara bersamaan. Ini menunjukkan bahwa fitrah ini tetap dijaga. 

Paragraph diatas adalah kutipan ceramah Ustad Muhammad Nuzul Dzikri. Bagian ini doang yang saya cantumkan. Kriteria yang pertama tidak saya tulis panjang lebar karena saya sudah banyak mendengar, InsyaAllah. Kriteria kedua ini yang ingin saya share di tulisan ini, sebagai pengingat kapada diri saya sendiri.

Itu karena, secara pribadi saya pernah merasa dipojokkan. Pernah ada seseorang yang berkata kepada saya, kamu cari apa lagi Ams? Kamu sendiri juga tau dia orangnya baik, insyaAllah sholeh. Dan waktu itu saya benar-benar cuman bisa diam, gak bisa berdebat. Padahal didalam hati ngomel, saya tidak ada perasaan ke dia, dengan dia saya merasa pendapat saya kurang dihargai, saya [merasa] tidak percaya visi misi rumah tangga yang ingin saya bangun bisa saya wujudkan bersamanya. Intinya gak cocok. Tapi saya tidak berani mengungkapkan alasan ‘tidak cocok’ itu sebagai sanggahan sama dia yang menyandarkan pendapatnya hanya pada ‘kesholehan’. Untungnya saya lanjut kuliah lagi, jadi untuk sementara kasus ini terselesaikan.

Jika suatu saat terulang lagi, saya sudah tahu sikap yang akan saya ambil. Setelah perkara iman, tidak ada yang salah dengan ‘memikirkan’ perasaan. InsyaAllah, Allah bersama perempuan-perempuan yang dirundung cinta :’)

“Ya Allah, satukanlah hati kami sebagaimana Engkau satukan antara kaum Muhajirin dan Anshar. Aamiin Yaa Mujibasailiin.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s