Surat yang Membicarakan Khil #4 (Negeri yang Dipeluk Alpen, Swiss)


Khil, temanku.

Hari ini tepat 90 hari sejak pertama kali aku mengirimkan surat untukmu. Ku kira tidak akan terlalu lama untuk melacak jejakmu kembali. Nyatanya, 3 bulan berlalu begitu saja tanpa ada -meski hanya secuil- petunjuk tentang hari-hari yang kau jalani, entah dimana.

Apa surat ini tidak sampai?

Mestilah. Karena aku yakin kau tidak akan mengabaikanku begitu saja. Tidak ada dibayanganku kau tahu akan rinduku yang menggunung ini, dan hanya melihatnya sekilas saja, sambil lalu. Itu sangat bukan kamu. Khil yang ku kenal adalah Khil yang selalu antusias atas hari-hariku. Kau bahkan pernah bilang, dihidupmu, aku punya tempat spesial tersendiri. Aku temanmu yang istimewa, kau selalu bilang begitu.

Kau berpindah alamat?

Mungkin. Hingga kau sampai tak sadar atas kehadiran surat-surat ini. Tapi biarlah, setidaknya aku sudah berupaya menghubungi. Walau mungkin akan sangat sia-sia untuk tetap mengirimimu berlembar-lembar kertas penuh cerita, tapi tak apa. Usaha yang sangat sia-siapun tetaplah usaha 🙂

Khil kau tau kan aku orang yang paling bisa menepati janji?

Aku masih ingat pesan terakhir sebelum pelukanmu melepas ku pergi di bandara. Katamu: I may not be there for you, but you always know where to find me. Dont forget to send me your routine story. I installed Skype, line, for you sweetie. You may chat me whenever you feel you miss me. I will reply it in a blink of eyes.

Akh, Khil. Kesetiaan adalah barang yang mahal. Menepati janji salah satunya. Olehnya itu, semenjak ku iyakan permintaanmu, aku selalu berusaha untuk menyetia pada janji itu. Kali ini ku bongkar album-album lamaku. Berharap masih ada petualangan yang belum ku ceritakan. Beruntung, masih ada satu perjalanan yang tercecer. An old and short trip to Switzerland di penghujung semi kemarin.

Ini foto-foto sisa perjalanan 🙂

Diantara semua tripku, perjalan inilah sebenarnya perjalanan paling awal melewati batas Belanda. Trip ini adalah caraku menghadiahi diriku sendiri yang sudah kuat melewati badai tiga bulan pertama di perantauan.

Tidak banyak ekspektasi yang ku bangun diperjalanan ini. Swiss adalah negeri asing yang tidak ku kenal, tidak ku kepoi di google. Apalagi ikut bus trip yang destinasinya sudah ditentukan, dan aku tinggal duduk santai di bus menikmati pemandangan. Satu-satunya motivasi yang mengiringi perjalananku hanyalah biaya tiket yang murah. Aji mumpung. Kalau tidak ku mulai sekarang, bisa kapan lagi?

Bersama dua gadis cantik, semangat kita penuhkan di dada. Hari kita sambut dengan riang gembira.

Rute bus: Rhine Fall – Lucerne – Zurich

Perjalanan bus seperti ini sebenarnya ada bagus dan tidaknya juga. Bagusnya, trip lebih murah karena tidak ada biaya akomodasi, kita tidurnya di bus. Kita juga bisa menikmati pemandangan jalan. Buat orang yang suka menghayal sepertiku, bus trip menawarkan kemewahan ini. Sampai tidak ingin tidur sepanjang perjalanan demi melihat view yang berganti-ganti berlarian di depan kaca jendela. And this rapeseed flower is my favorite.

screen-shot-2016-11-30-at-12-31-11
Google.com (gambar dari hape gak cantik soalnya liatnya dari bus, kejauhan. hehe)

Kekurangannya: alur perjalanan sudah ada yang atur. Waktu juga terkontrol ketat. Kita tidak bisa mengeksplor terlalu banyak, atau terlalu jauh.

However,

Swiss itu nyenengin!

Di pusat kota Lucerne ada tiga kombinasi kontradiktif yang bersatu menjadi sesuatu yang magis. Pertama, daya tarik pegunungan Alpen yang bisa kau pandangi dari jauh. Kedua, Spreurbrúcke dan Kapellbrúcke (wooden bridge) yang menghipnotis. Ketiga, senja yang habis di permukaan danau Lucerne.

Di Zurich lain lagi. Alpen berdiri dengan senyum terbaik. Kota diapit oleh lake Zurich. Di daratan orang-orang menyebrangi limmatquai, a pedestrian yang tidak mau jauh-jauh mendampingi sungai dimana namanya berasal.

Alpen, punggung Alpen adalah hal terbaik yang ku nikmati di perjalanan ini. Dari jauh dia memanggil-manggil ingin dipeluk. I cannot translate my feeling into words. Yang aku tau, aku hanya betah berlama-lama menatap punggung Alpen. Tanpa melakukan apa-apa, hanya memperhatikan dari jarak yang berarti.

Jarak Khil, kata orang-orang yang mengerti, harus berada dalam posisi yang aman. Tidak boleh terlalu jauh pun terlalu dekat. Sama halnya dengan Alpen. Terlalu jauh dari Alpen akan mengaburkan keindahannya. Terlalu jauh mengimplikasikan harapan yang redup, yang tidak berniat kau upayakan. Sedang berdiri dalam jarak yang terlalu dekat bisa mencederai kekaguman. Jarak yang terlalu dekat membuka kekurangan-kekurangan yang dari jauh bisa tertutupi dengan baik. Di Swiss, aku berada di jarak yang cukup. Cukup untuk sebuah niat mengunjungi Alpen lebih dekat. Merasai degup jantung yang semakin kencang membelah kaki-kaki Alpen. Menikmati hamparan-hamparan putih salju yang tidak pernah hilang dari Alpen.

Suatu saat denganmu. Aku menawarkan perjalanan indah itu untuk kita nikmati bersama. Maukah kau  menjadi teman perjalananku Khil?

Khil, ingatanku tentang mu suatu saat akan semakin terkikis. Jarak kita semakin tidak aman. Barangkali hari ini, jarak masih cukup baik menawarkan ingatan sebagai teman. Suatu hari aku takut, jarak menjadikan kita orang asing, yang bahkan bertukar sapa pun akan menjadi sesuatu yang ganjil.

Di surat ini aku memaksamu untuk menyambung jarak kita yang semakin melebar. Kalau kau lupa seberapa istimewanya kamu buatku, aku tidak berkeberatan untuk mengakui kalau…

Aku suka kamu. 

.

.

Mungkin aku suka kamu, Khil? Mungkin. Aku tidak pernah yakin. Aku cuma tidak suka kalau sampai kita tidak saling memperhatikan. Terserah jika menurutmu kamu hanya memperhatikan seorang teman. Buatku itu tidak masalah. Sepanjang kabar mu terus ku ketahui. Berhenti membuatku khawatir.

Balaslah surat ini. Ceritakan apa-apa saja yang kau lakukan dalam kurun 9 bulan aku disini. Bukan hanya kau yang ingin membaca cerita, aku juga ingin. Balaslah meski sekedar hai yang basa-basi di suratmu.

Best,
Perempuan yang bingung pada perasaannya sendiri, Khalta.

~~~~~

Yuk baca dari awal surat-surat Khalta untuk Khil secara berurutan di:
Surat yang Membicarakan Khil #1 [Tentang Aachen]
Surat yang Membicarakan Khil #2 (Wajah Paris)
Surat yang Membicarakan Khil #3 [Menjenguk Dunia Dongeng, Praha]

Advertisements

2 thoughts on “Surat yang Membicarakan Khil #4 (Negeri yang Dipeluk Alpen, Swiss)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s