Surat yang membicarakan Khil #6 [Bagian yang Tidak Terisi]


1455577029359

Untuk Qon,

Terimakasih, balasan surat-suratku akhirnya datang. Suratmu mengetuk pintu rumahku tepat waktu. Tepat disaat aku memutuskan untuk menyerah dan memilih berhenti  berkirim cerita. Sebelum suratmu sampai, aku didera bosan yang berkepanjangan. Aku, dengan surat-suratku yang tidak menuai balasan, hampir saja berhenti menulis. Aku capek berbicara pada diriku sendiri.

Aku selalu menunggu balasan surat-suratku datang. Kadang-kadang dengan harapan yang melimpah, kadang dengan asa yang sekuku. Meski begitu, tidak pernah harap itu benar-benar habis. Hingga suratmu tiba dengan kenyataan yang sama sekali berbeda. Berita darimu datang menghapus satu-satunya kesempatan yang aku punya. Berkat berita darimu, aku tidak punya pilihan selain mengakhiri surat-suratku untuk Khil.

Aku membencimu berbulan-bulan lamanya untuk suratmu itu. Menurutku, kamu orang yang jahat, sangat. Kalau kamu mau berempati sedikit saja, untuk mencoba menebak perasaan hancur seorang yang menunggu kabar terlalu lama, kamu tidak akan tega membungkus suratmu dengan nama Khil. Apa kamu senang mematahkan hati seseorang?

Aku juga membencimu sebab pengandaian yang muncul akibat kedatangan suratmu. Seandainya kau mendiamkan suratku, aku tidak perlu tahu hal-hal pahit yang terjadi, aku tetap bisa mengurai memori-memori tentang Khil yang berpilin-berpilin di kepalaku, dan aku tetap bisa membayangkan dia hidup dengan bahagia.

Yang paling utama, aku membencimu karena isi suratmu itu.. isi suratmu menyapu bersih pikiran-pikiran positif yang selama ini susah payah ku tanamkan ke kepalaku sendiri. Selama ini aku berusaha meyakini, masih ada hal-hal baik yang bisa ku perjuangkan. Setelah semua kemalangan yang menimpaku, aku percaya akan ada sesuatu yang indah pada akhirnya. Tapi suratmu, isi suratmu telah berbicara secara tidak langsung bahwa kebahagiaan masih belum bergerak bahkan seinci pun untuk menemuiku.

Kamu, kenapa kamu harus membalas suratku? Aku lebih suka dengan kemungkinan kamu membiarkan surat-suratku berdebu, tak tersentuh atau sekalian kau buang saja. Kenapa kamu harus membuang-buang waktumu untuk surat-suratku yang katamu mengganggu itu? Mungkin maksudmu baik, di akhir suratmu kau menuliskan jangan sampai kesedihanmu tentang Khil berubah menjadi badai yang menghanyutkan kebahagiaanmu. Tapi tak taukah kau kebaikan selalu dibayang-bayangi kekejaman? Sesuatu yang kau anggap baik itu, melukai setiap persendian ku hingga untuk berdiri menerjang kehidupan ini saja aku tidak sanggup. Sebaiknya untuk sekarang dan seterusnya kau tidak lupa bahwa hal yang menurutmu baik, belum tentu menjadi kebaikan yang sama untuk orang lain.

Begitulah Qon, aku membencimu dengan benci yang menahun rasanya.

.

.

Eh tapi ku tulis surat ini bukan untuk meluapkan kebencianku. Saat aku menulis surat ini, perasaan buruk kepadamu itu, aku tidak merasakannya lagi. Yang ku ceritakan diatas sudah selesai setahun yang lalu. Maka dari itu juga aku baru membalas suratmu. Well aku tentu saja tau kamu tidak mengharapkan akan ada balasan dari suratmu, tapi biarkan aku sekali saja berkirim surat ini untuk menghaturkan terimakasihku yang tulus.

Pada kenyatannya, dengan perspektif yang berbeda yang terlambat ku pahami, suratmu memberikan tanda titik untuk pencarianku yang tak tentu arah. Olehnya itu, aku ucapkan terimakasih.

Rasa terimakasih ini bisa terbit dalam proses yang tentu saja lama. Iya, di awal suratmu membanjiri hidupku dengan kesedihan. Di sela-sela kegiatanku yang banyak, air mata ku berlomba-lomba jatuh. Karena air mata itu pula, semua keindahan yang seharusnya tertangkap cantik di mata, menjadi kabur dan terlihat seperti kesedihan yang lain. Tapi justru itu, terlalu banyak menangis itu, mengosongkan stok air mata yang ku punya. Perlahan-lahan, aku berhenti menangis memikirkan Khil. Gorden tipis yang menyamarkan keindahan di mataku akhirnya tersibak.

Sekali lagi Qon, terimakasih sudah menunjukkan perempuan ini awal untuk memulai segalanya kembali.

Salam kenal, Khalta.

**

Surat-surat sebelumnya secara berurutan ada di:
Surat yang Membicarakan Khil #1 [Tentang Aachen]
Surat yang Membicarakan Khil #2 (Wajah Paris)
Surat yang Membicarakan Khil #3 [Menjenguk Dunia Dongeng, Praha]
Surat yang Membicarakan Khil #4 (Negeri yang Dipeluk Alpen, Swiss)
Surat yang Membicarakan Khil #5 [Dikunjungi Pilu]

Advertisements

3 thoughts on “Surat yang membicarakan Khil #6 [Bagian yang Tidak Terisi]

  1. Saya sudah baca keseluruhan Khil mu. Komentarku sih, bagus. Untuk saya yang tidak terlalu suka dengan fiksi. Hahaha.. sepertinya ini bisa dibuat serinya yang lebih banyak lagi.. Tentu dengan hikmah2 di setiap serinya..

    #1 Perjalanan sekadar perjalanan? Rasanya tidak seperti itu..

    #2 Perjalanan akan menemukan dengan hal2 tak terduga..

    #3 Perjalanan adalah bentuk lain perjuangan.. Demi kelegaan atau ketenangan..

    #4 Perjalanan adalah hadiah.. Untuk ingatan..

    #5 dan #6 Perjalanan adalah tentang melapangkan rasa..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s