Inside Out & Back Again


IMG_4447

Judul buku: Inside Out and Back Again
Pengarang: Thanhhá Lai
Penerbit: Harper
Tahun terbit: 2011
Tebal buku: 260 halaman

Tiga hari ku pakai untuk menghabiskan ratusan puisi yang ada di dalam buku ini. Puisi-puisi yang disajikan berurutan sesuai dengan alur hidup Há, anak perempuan berumur 10 tahun yang menjadi saksi perang Vietnam, mulai saat ia masih bermukim di kampung halamannya di Vietnam sampai saat ia hijrah ke Amerika. Empat chapter dalam buku ini menandakan proses imigrasi Há. Chapter 1: Saigon, kota terbesar di Vietnam yang sekarang sudah berubah nama menjadi Ho Chi Minh; Chapter 2: At Sea, mengisahkan hari-hari penuh bau amis di lautan disertai ketakutan-ketakutan tertangkap komunis; Chapter 3: Alabama, kota yang dengan terpaksa ibunya pilih setelah dijanjikan Amerika akan memberikan kemudahan anak-anaknya untuk sekolah; lalu Chapter 4: From Now On, masa-masa berharap bisa settle for good. 

Sebagai seorang feeler akut dari kerajaan INFP (see Myers Briggs 16 personality types), puisi-puisi ini membuat saya lelah. Semua emosi anak kecil yang autentik, mata penuh harap, kesedihan karena tidak punya teman bermain, rencana-rencana balas dendam sang outsider, beberapa pengandaian-pengandaian yang membuat semakin depresi, jokes receh tapi bikin ngakak, kenyataan bahwa seberapa rancunya Vietnam yang mereka tinggalkan, Amerika tidak pernah menciptakan perasaan homey untuk mereka sekeluarga.

Wishes

I wish

Brother Khói wouldn’t
keep inside
how he endures
the hours in school,

that Mother wouldn’t 
hide her bleeding fingers

that Brother Quang wouldnt
be so angry after work

I wish

our cowboy could be persuaded
to buy a horse,

that I could be invisible
until I can talk back,

that English could be learned
without so many rules.

I wish

Father would appear
in my class
speaking beautiful English
and he does French and Chinese
and hold out his hand 
for mine

Mostly,
I wish
I were
still
smart.

Thanhhá Lai sendiri mengakui bahwa puisi-puisi yang ia buat merupakan sebagian besar rekaman ingatan masa kecilnya. Sama seperti Há, perang mencabut kehadiran ayahnya, memaksanya belajar bahasa Inggris yang menurut Há punya terlalu banyak aturan, membuatnya harus menerima tatapan-tatapan teman kelasnya sebagai satu-satunya anak berkulit olive dengan rambut hitam pertama di sekolah barunya.

Buku ini memenangkan dua penghargaan sekaligus: National Book Award Winner juga Newbery Honor Book. Karena ditulis dengan memperhatikan sudut pandang anak kecil, puisi-puisi Thanhhá Lai hanya bermodal metaphor sederhana yang mudah dicerna. Meski begitu, kelugasan  kalimatnya menyimpan konflik yang runcing. Tiba-tiba saja kamu akan merasa: aku tidak akan bisa sekuat itu, seperti saat Mama Há tanpa berfikir panjang mengganti agamanya agar anaknya bisa mendapat sponsor kuliah. Atau kau tiba-tiba mendapat suntikan semangat dari kebahagiaan anak kecil yang jujur, seperti:

I pray for
Father to find warmth in his new home,
Mother to keep smiling more,
Brother Quang to enjoy his studies,
Vu Lee to drive me from and to school,
Brother Khói to hatch an American chick,

This year I hope
I truly learn
to fly-kick,
not to kick anyone
so much as
to fly.

Kisah di buku ini ditutup dengan halaman ekslusif wawancara bersama Thanhhá Lai serta kilasan tips n trick menulis puisi ala author. So why should you read this book? Karena menurut gue, di dunia ini perang akan selalu ada dan menyisakan hanya dua pilihan. Either lo yang jadi imigran, atau lo yang kedatangan tamu. So kalau lo cukup beruntung negara lo aman dan gak harus ngerasain sedihnya jadi pengungsi, please act more considerate. Greet them with more awareness and compassion. Sehingga anak-anak seperti Há bisa lebih bahagia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s