(jalan) keluar


Beberapa hal membuat aku merasai lagu itu sampai sesap yang paling akhir, tak berperasa. Ada banyak kata dalam lagu itu yang yah, anggap saja tersambung dengan sendirinya dengan garis-garis hidup kita yang sudah menjadi kaku. Jika memang tiada harapan Tunjukkan jalan keluar Dari hatimu Menjadi beragam perihal yang ku dengungkan sendirian. Sesekali menyoroti gambarmu yang ku [...]

Advertisements

Mengapa Aku Melihat ke Belakang?


Saya sudah suka dengan keadaan ku yang seperti ini. Kadang-kadang menuliskanmu. Kadang-kadang cukup dengan melihat ke belakang, pada masa-masa yang terlewatkan. Bus yang sama sekali tidak penuh. Siluet yang berdekatan. Meriahnya diam.   Kau datang duluan. Aku yang menemukan tempatmu pertama. Kunci yang terjatuh Panik yang merona Aku suka wajahmu yang dibasuh wudhu.

A, Ini Delusi (titik)


Disaat yang paling sepi, aku suka menghayalkan kau datang menemaniku. Datang mendendangkan lagu india. Apa yah? Kuch kuch hota hai  mungkin. Atau apalah, terserah kamu saja yang bersenandung. Aku tidak peduli apa yang kau buat dengan suaramu itu, aku hanya suka kau ada disampingku. Atau jika sepiku datang di dalam kegaduhan, kau akan datang menutup telingaku. [...]

Senja, Surat – Surat untuk Kekasih


Orang-orang menulis surat kepada kekasihnya, A. Mengirimkannya lewat doa. Menuliskannya lewat kertas-kertas yang dibawa terbang harapan ke langit. Ada juga yang melipatnya dan menyisipkannya pada deru hujan yang pasti akan datang lagi. A, mungkin aku sedikit latah. Sejujurnya, setiap senja, ku tunggui matahari pergi. Aku juga ingin menitip pesan pada matahari yang sudah berwarna tomat [...]

A, Nanti…


A, akan ada suatu hari aku tidak akan mengingatmu lagi. Bukan, bukan benar-benar melupakanmu maksudku, tapi, entahlah, akan ada suatu pagi, mentari tidak akan membawa namamu lagi. Seperti pula, pasti akan ada suatu malam purnama hanya sekedar menjadi purnama, tidak membiaskan hal-hal tentangmu lagi. Hey, A. Aku tidak akan melupakanmu. Tidak. Aku sudah cukup dewasa, [...]

Sepertinya Pekat


Saya tetap menuliskanmu, A. Saya keras kepala? Iya, saya sadar. Menuliskanmu bukan hal yang mudah. Menuliskanmu berarti saya harus mengingat kembali beberapa hal yang ku teguk pekat di tenggorokanku. Menuliskanmu berarti mereka ulang kembali kejadian-kejadian yang sebenarnya lebih baik untuk dihapus saja. Menuliskanmu adalah sebuah upaya bunuh diri yang sakit sekali. Lalu kalau sebegitu luka, [...]

Senja Lungkrah di Kedua Bola Matamu


Waktu tidak pernah bilang: penantian bisa menjadi pupus. habis digerus oleh ketukan nasib yang tidak berjodoh waktu terlalu takut berbicara padaku: rasanya akan sangat pahit di tenggorokan A, penungguan kepada senja di kedua bola matamu lungkrah di tikar yang lusuh aku menyerah.

Ngerumpiin Ustadz


Dear A. Aku bingung bagaimana membuka surat ini dengan baik. Bagaimana menyusun peristiwa peristiwa berentetan di kepalaku untuk ku sampaikan padamu. Bingung karena sebenarnya sudah tidak ada kepentingan apa apa buatku untuk menyuratimu. Tidak ada keperluan mendesak, tidak sedang meminta pertolongan juga tidak ada kabar penting yang wajib kau tahu. Maka anggap saja, surat ini [...]

Album


Aku membedah album kenangan di kepalaku sendiri kemarin. Ada banyak momen di dalamnya. Besar, kecil, tak beraturan, saling berhempitan, kadang berserakan. Ada yang terletak terlalu berdempetan. Ada pula kenangan yang jauh dianak tirikan. Hehehe, bercanda. Tidak pernah ada ingatan yang dikucilkan. Tidak pernah ada maksud. Walau sering juga ku jumpai memori yang sedikit samar, itu [...]